Artikel

Rayakan Hari Ibu Internasional: “Mom Guilt” Bukan Dosa, Ini Cara Damai Jadi Ibu Bekerja yang Bahagia

Post pada 08 Mei 2026

Selamat Hari Ibu Internasional, Bunda! Tanggal 10 Mei ini adalah momen yang tepat untuk memberi pelukan paling erat pada diri sendiri. Mengapa? Karena menjadi ibu di era sekarang itu tantangannya luar biasa, apalagi untuk Bunda yang memilih, atau harus, meniti karier sambil membesarkan buah hati.

​Namun, di tengah perayaan ini, sering kali ada “tamu tak diundang” yang muncul di pikiran: Mom Guilt. Perasaan bersalah karena tidak bisa menemani anak 24 jam, rasa cemas saat menutup pintu rumah untuk berangkat kerja, hingga sesak di dada saat melihat unggahan “ibu sempurna” di media sosial yang seolah punya waktu tak terbatas untuk membuatkan bekal estetik setiap pagi.

​Mari kita bicara dari hati ke hati tentang cara berdamai dengan kecemasan ini dan bagaimana tetap tegak berdiri meski suara sumbang di luar sana mencoba menjatuhkan.

Tragedi Day Care dan “Netizen Julid”: Berhenti Menyalahkan Ibu

​Beberapa waktu lalu, kita semua dikejutkan oleh berita memilukan tentang kekerasan anak di sebuah day care di Jogja. Sebagai sesama ibu, tentu hati kita hancur. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah respons sebagian netizen di kolom komentar.

​Bukannya fokus pada perlindungan anak atau perbaikan sistem pengawasan, banyak jari nakal yang justru menyerang sang ibu. “Makanya, anak itu diurus sendiri, jangan dititip-titip demi karier,” atau “Kasihan anaknya jadi korban ambisi ibunya.”

​Komentar-komentar “pick me moms” yang merasa paling benar karena memilih di rumah saja, atau netizen yang hobi menghakimi tanpa tahu dapur orang lain, inilah yang memperparah kecemasan meninggalkan anak. 

Padahal, tidak ada satu pun ibu di dunia ini yang ingin hal buruk terjadi pada anaknya. Menitipkan anak di tempat penitipan atau dengan pengasuh adalah sebuah bentuk kepercayaan dan ikhtiar untuk memberikan kehidupan yang lebih baik, bukan bentuk ketidakpedulian.

​Sudah saatnya kita “mingkemin” suara-suara julid itu. Setiap ibu punya perjuangan yang berbeda, kondisi ekonomi yang tak sama, dan mimpi yang berhak diwujudkan. Keputusan Bunda untuk bekerja adalah keputusan yang valid dan terhormat.

Baca juga: Cara Memilih Day Care untuk Anak – Kenali Red Flag Day Care Anak yang Harus Dihindari ini

Mengapa Mom Guilt Muncul?

​Kecemasan ini biasanya bersumber dari standar ganda masyarakat. Ibu bekerja dituntut bekerja seolah tidak punya anak, namun dituntut mengasuh anak seolah tidak punya pekerjaan. Akibatnya, muncul ketakutan bahwa:

  1. ​Anak akan kehilangan ikatan (bonding) dengan ibunya.
  2. ​Perkembangan anak akan terlambat karena tidak distimulasi langsung oleh Bunda.
  3. ​Bunda dianggap egois karena mengejar aktualisasi diri.

​Padahal, penelitian justru menunjukkan bahwa anak dari ibu bekerja cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki pandangan yang luas tentang peran gender. Jadi, yuk pelan-pelan kita urai rasa cemas itu.

5 Cara Menenangkan Diri Ibu Bekerja – Lakukan Ini Saat Kecemasan Menyerang

cara mengatasi mom guilt karena harus bekerja

​Menghadapi kecemasan meninggalkan anak membutuhkan strategi mental yang kuat. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan:

​1. Bangun Sistem Pendukung (Support System) yang Terpercaya

Kasus kekerasan di day care Jogja beberapa waktu lalu memang menjadi alarm keras bagi kita untuk jauh lebih selektif. Jangan ragu untuk melakukan survei mendalam, bertanya pada orang tua lain yang menitipkan anak di sana, hingga mengecek rekam jejak pengelolanya. Memastikan anak berada di tangan yang tepat adalah langkah pertama untuk meredam rasa was-was di kantor.

​Jika Bunda menitipkan si kecil di day care, pastikan tempat tersebut memiliki fasilitas CCTV yang bisa diakses secara real-time melalui ponsel. Begitu juga jika menggunakan jasa pengasuh di rumah, memasang kamera pengawas di titik-titik strategis bukanlah bentuk ketidaksopanan, melainkan bentuk proteksi. Memiliki kontrol visual seperti ini terbukti sangat ampuh mengurangi beban pikiran Bunda selama jam kerja.

​2. Fokus pada Quality Time, Bukan Quantity Time

Banyak Bunda merasa bersalah karena kehilangan waktu berjam-jam bersama anak. Padahal, kuantitas waktu bukanlah penentu utama kedekatan emosional. Ibu yang berada di rumah 24 jam penuh tetapi sibuk dengan dunianya sendiri atau terus menatap layar ponsel tidak selalu lebih baik daripada ibu bekerja yang memberikan perhatian total meski hanya beberapa jam saja setelah pulang kantor.

​Kuncinya adalah saat Bunda sampai di rumah, lepaskanlah semua beban pekerjaan dan hadir secara utuh. Peluk si kecil, dengarkan cerita mereka seharian, dan bermainlah tanpa interupsi gadget. Kualitas interaksi yang hangat dan penuh kasih sayang inilah yang akan tertanam kuat di memori anak, bukan hitungan berapa jam Bunda berada secara fisik di sampingnya.

​3. Validasi Perasaan Bunda

Sering kali kita mencoba menekan rasa sedih atau bersalah karena dianggap sebagai kelemahan. Padahal, cara terbaik untuk tenang adalah dengan mengakui perasaan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri. Katakanlah pada diri sendiri, “Aku merasa sedih karena aku sangat menyayangi anakku, dan perasaan ini sangat wajar sebagai seorang ibu.” Menghargai perasaan sendiri adalah awal dari kedamaian mental.

​Setelah memvalidasi rasa sedih itu, ingatlah kembali alasan besar di balik keputusan Bunda bekerja. Bekerja adalah salah satu bentuk cinta Bunda untuk mereka; sebuah upaya nyata untuk memastikan masa depan, pendidikan yang layak, serta kebutuhan gizi mereka terpenuhi dengan baik. Dengan begitu, rasa bersalah tersebut perlahan akan berubah menjadi rasa bangga atas dedikasi Bunda.

​4. Berhenti Membandingkan Diri (Stop Social Media Comparison)

Dunia maya sering kali menjadi pemicu utama munculnya mom guilt. Ingat ya Bunda, apa yang terlihat di Instagram atau TikTok biasanya hanyalah cuplikan momen terbaik saja (highlight reel), bukan potret kenyataan hidup yang utuh selama 24 jam. Jangan biarkan standar semu orang lain membuat Bunda merasa gagal sebagai orang tua.

​Setiap keluarga memiliki ritme, tantangan, dan prioritas yang berbeda-beda. Hanya karena Bunda melihat ibu lain bisa melakukan home-schooling atau menyiapkan bekal organik setiap pagi, bukan berarti cara Bunda yang lebih praktis itu salah. Fokuslah pada kemajuan kecil di keluarga Bunda sendiri daripada sibuk membandingkan diri dengan rumput tetangga yang terlihat lebih hijau.

​5. Afirmasi Positif Sebelum Berangkat

Ritual pagi sangat menentukan suasana hati Bunda sepanjang hari. Sebelum melangkah keluar rumah, ambil nafas dalam dan berikan afirmasi positif untuk menenangkan saraf. Ucapkan kalimat seperti, “Anakku saat ini aman, dia sedang disayangi, dan aku berangkat untuk mengusahakan yang terbaik bagi hidupnya.” Pikiran yang tenang di pagi hari akan membuat Bunda lebih produktif.

​Selain itu, ciptakan ritual pamit yang manis bersama si kecil untuk mengurangi kecemasan di kedua belah pihak. Berikan pengertian dengan bahasa yang sederhana bahwa Bunda pergi sebentar untuk bekerja dan berjanji akan segera kembali untuk bermain bersama lagi. Pelukan hangat sebelum berangkat akan memberikan rasa aman bagi anak dan ketenangan bagi Bunda untuk memulai hari.

Menuju Ibu yang Berdaya: Rayakan Perjuangan Bunda Bersama Unifam

​Bunda, di Hari Ibu Internasional ini, mari kita sepakat untuk berhenti saling menghakimi. Baik Bunda yang bekerja di kantor, bekerja dari rumah (remote working), maupun ibu rumah tangga penuh waktu, semuanya adalah Ibu yang Hebat. Seorang ibu yang bekerja mungkin melewatkan beberapa momen kecil, tapi Bunda sedang mengajarkan nilai kerja keras dan kemandirian. Sementara itu, ibu rumah tangga adalah pilar utama kehangatan rumah yang pengorbanannya tak ternilai. Keduanya punya perjuangan yang tidak bisa dibandingkan.

​Ingatlah bahwa anak-anak membutuhkan ibu yang bahagia, bukan ibu yang sempurna. Jangan biarkan komentar negatif netizen merenggut ketenangan Bunda. Jika kita melihat sesama ibu sedang kesulitan, alih-alih memberikan komentar pedas, berikanlah dukungan tulus seperti, “Kamu sudah melakukan yang terbaik, semangat ya!” Kalimat sederhana ini bisa menjadi pelipur lara yang luar biasa bagi mereka yang sedang berjuang melawan mom guilt.

​Menghadapi hari-hari yang sibuk memang melelahkan, tapi Bunda tidak sendirian. Unifam hadir untuk menemani perjalanan Bunda dengan berbagai pilihan produk berkualitas yang bisa menjadi penyemangat hari-hari si kecil maupun Bunda sendiri.

Yuk, terus berbagi inspirasi dan tips seputar dunia parenting serta gaya hidup ibu modern dengan mengikuti akun Instagram resmi kami di @Unifam.id. Dapatkan berbagai info menarik, kuis, dan promo spesial yang pastinya sayang untuk dilewatkan.

​Untuk memastikan Bunda mendapatkan produk yang asli dan terjamin kualitasnya, selalu beli produk-produk Unifam melalui kanal resmi kami di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia. Belanja nyaman, hati tenang, anak pun senang! Selamat Hari Ibu untuk seluruh Bunda hebat di Indonesia. Teruslah bersinar dengan caram

Berita Terpopuler


Berita Terbaru


Bagikan Artikel