Artikel

“Dibilang Menantu Durhaka?” Cerita Bunda Belajar Bilang ‘Terima Kasih, Tapi…’ Saat Mertua Ikut Campur Urus Anak

Post pada 16 Okt 2026

​”Bunda, jujur aku sering nangis di kamar mandi. Mertuaku baik banget, tapi tiap kali nginep, semua aturan yang udah aku bangun buat Si Kecil langsung bubar jalan. Kalau aku ngomong, takut dibilang menantu durhaka. Tapi kalau didiemin, aku stres sendiri. Gimana ya cara nolak sarannya tanpa bikin hubungan keluarga jadi panas?”

​Pesan singkat di Direct Message (DM) Instagram komunitas kita minggu lalu ini rasanya bikin banyak dari kita mengangguk pelan ya, Bun. Mengusap dada sambil bisik-bisik dalam hati, “Ini sih cerita hidupku banget!”

​Jujur saja, dinamika antara menantu perempuan dan mertua soal pola asuh anak itu ibarat berjalan di atas papan titian. Salah langkah sedikit, rasanya bisa langsung bikin tegang suasana serumah. Di satu sisi, kita tahu mertua berniat baik dan sayang banget sama cucunya. Tapi di sisi lain, perbedaan zaman, mitos vs medis, hingga perbedaan prinsip sering kali bikin Bunda mengelus dada.

​Lantas, bagaimana sih cara menghadapi mertua ikut campur urus anak tanpa harus memicu perang dingin? Yuk, rehat sejenak, seduh teh hangat, dan simak cerita serta langkah-langkah bijak yang bisa Bunda terapkan di rumah!

Baca juga: Mendidik Tanpa Membentak: Cara Seru Mengajarkan Si Kecil Menghargai Makanan Tanpa Drama

Dilema Bunda Muda: Cinta Mertua yang Kadang Bikin Sesak

​Mari kita akui bersama: menjadi ibu muda di era modern itu tidak mudah. Kita terpapar banyak sekali literatur pengasuhan berbasis medis terbaru, mulai dari info MPASI, sleep training, hingga batasan screen time.  Sementara itu, mertua membawa pengalaman membesarkan anak puluhan tahun lalu yang tentu sangat dipengaruhi oleh tradisi pada zamannya.

​Ketika mertua memberikan pisang pada bayi berusia 3 bulan karena dianggap “kasihan bayinya kelaparan”, atau melarang anak main kotor-kotoran karena takut kuman padahal itu bagian dari stimulasi sensoris, konflik batin pun terjadi.

​Ingat ya Bun, merasa kesal atau tertekan itu wajar banget. Bunda bukan menantu yang jahat hanya karena berbeda pendapat. Yang paling penting adalah bagaimana kita merespons situasi tersebut dengan bijak, tetap santun, namun batasan (boundaries) keluarga kecil Bunda tetap terjaga.

Baca juga: Curhat ke Suami Malah Dikasih Solusi? Kenapa Ibu Muda Butuh Sahabat Sesama Ibu demi Waras Bersama

cara menghadapi mertua ikut campur urus anak

Mantra Ajaib: Jurus “Terima Kasih, Tapi…”

​Kunci utama untuk menyampaikan ketidaksetujuan tanpa memicu pertengkaran adalah teknik “Terima Kasih, Tapi…”. Ini adalah bentuk diplomasi halus yang memvalidasi niat baik mertua sekaligus menegaskan keputusan Bunda sebagai orang tua utama.

​Bagaimana contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Yuk, simak skenario berikut:

Skenario 1: Soal Makanan/Camilan Anak

​Mertua: “Ini kasih permen aja biar dia berhenti nangis, kasihan lho dari tadi rewel.”

​Respon Bunda: “Terima kasih banyak ya Ibu udah bantu nenangin Si Kecil. Tapi maaf banget Bu, kita lagi batasi konsumsi gula biar giginya sehat dan tidur malamnya gampang. Nanti biar aku kasih biskuit khususnya aja ya, Bu.”

Skenario 2: Soal Mitos vs Medis

​Mertua: “Bayi jangan sering digendong, nanti bau tangan!”

​Respon Bunda: “Makasih masukannya ya, Bu. Tapi kata dokter anak kemarin, untuk usia segini justru lagi butuh banyak skin-to-skin biar anak merasa aman dan rasa percaya dirinya bagus.”

Dengan mengawalinya lewat rasa terima kasih, mertua tidak akan merasa digurui atau ditolak secara mentah-mentah. Niat baik mereka dihargai, tetapi aturan Bunda tetap berjalan.

Baca juga: 7 Inspirasi Menu Sarapan Bergizi Praktis Keluarga yang Lezat dan Bikin Si Kecil Semangat : Rahasia Pagi Tanpa Drama

​5 Cara Menghadapi Mertua Ikut Campur Urus Anak Tanpa Bikin Runyam

​Selain teknik di atas, ada beberapa strategi ampuh yang bisa Bunda praktikkan agar hubungan dengan mertua tetap harmonis meski ada perbedaan cara pandang:

​1. Jadikan Suami sebagai “Bemper” Utama

​Satu hal yang perlu diingat: mertua adalah orang tua dari suami Bunda. Secara psikologis, orang tua akan lebih mudah menerima kritik atau teguran dari anak kandungnya sendiri dibanding dari menantu.

​Kunci utamanya ada pada komunikasi Bunda dan Suami di kamar tidur. Samakan persepsi terlebih dahulu. Buat kesepakatan mengenai aturan pengasuhan anak. Ketika mertua mulai ikut campur terlalu jauh, biarkan Suami yang menyampaikan batasan tersebut secara lembut kepada ibunya.

​2. Hindari Merespons Saat Emosi Sedang Tinggi

​Ketika mertua melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip Bunda, misalnya memberikan gadget secara berlebihan pada anak, usahakan untuk tidak langsung memotong atau marah di depan anak dan mertua.

​Tarik napas dalam-dalam, amankan anak terlebih dahulu, lalu cari momen yang tenang untuk berbicara. Diskusi yang dilakukan saat kepala dingin akan jauh lebih efektif dibanding adu argumen saat emosi memuncak.

​3. Libatkan Dokter atau Ahli sebagai Alasan

​Mertua mungkin sulit menerima saran jika itu datangnya murni dari Bunda karena menganggap Bunda “anak kemarin sore” dalam hal mengurus anak. Solusinya? Libatkan pihak ketiga yang punya otoritas, seperti dokter spesialis anak.

​Gunakan kalimat seperti: “Iya Bu, kemarin pas kontrol ke dokter, dokternya wanti-wanti banget supaya Si Kecil nggak dikasih makanan berpenyedap dulu…” Dengan membawa nama dokter, Bunda tidak memosisikan diri sebagai pihak yang sok tahu, melainkan hanya menjalankan instruksi medis.

​4. Berikan Mertua “Tugas Khusus”

​Sering kali, mertua ikut campur bukan karena ingin merusak aturan rumah tangga Bunda, melainkan karena mereka ingin merasa dibutuhkan dan ingin dekat dengan cucunya.

​Daripada membiarkan mereka mengambil alih tugas-tugas krusial yang sensitif, berikan mereka “peran aman”. Misalnya, minta bantuan mertua untuk membacakan buku cerita, mendampingi anak main di taman, atau memilihkan baju untuk Si Kecil. Ini membuat mertua merasa berguna dan dihargai tanpa mengganggu aturan dasar pengasuhan yang sudah Bunda tetapkan.

​5. Fokus pada Niat Baiknya, Bukan Cara Sampaiannya

​Kadang, cara mertua menyampaikan saran terdengar menggurui atau menghakimi. Namun, cobalah untuk menyaring kalimatnya dan fokus pada niat dasarnya: mereka menyayangi cucunya. Dengan mengubah pola pikir kita dari “Mertuaku mau mengontrolku” menjadi “Mertuaku hanya ingin yang terbaik buat cucunya lewat cara yang dia tahu”, beban emosional di dada Bunda akan terasa jauh lebih ringan.

Hangatkan Kebersamaan Keluarga Bersama Pilihan Unifam

Merawat keharmonisan rumah tangga dan keceriaan buah hati dimulai dari momen kebersamaan yang berkualitas di rumah. Lengkapi waktu santai keluarga dengan menghadirkan camilan bernutrisi berkualitas dari Unifam yang aman, lezat, dan menyenangkan untuk menemani setiap generasi.

Rumah Tangga Ini Milik Bunda dan Suami, Mari Rawat Bahagianya 

​Menghadapi perbedaan pandangan dengan mertua memang membutuhkan kesabaran seluas samudera dan seni berkomunikasi yang matang. Tidak apa-apa jika sesekali Bunda merasa lelah atau kewalahan. Itu sangat manusiawi!

​Ingatlah bahwa Bunda dan Suami adalah kapten utama dalam kapal bernama keluarga kecil ini. Mertua adalah penasihat yang opininya boleh didengar, disaring, dan dipilah mana yang cocok diterapkan demi kebaikan tumbuh kembang Si Kecil.

​Menjadi ibu yang bijak dan sabar tentu membutuhkan energi serta suasana hati yang bahagia. Saat pikiran sedang penat atau butuh jeda sejenak di tengah rutinitas mengurus rumah dan anak, jangan lupa beri apresiasi untuk diri sendiri ya, Bun!

​Bunda butuh teman berbagi cerita, tips parenting seru, hingga info produk berkualitas untuk keceriaan Si Kecil dan keluarga? Yuk, follow Instagram resmi kami di @Unifam.id! Bergabunglah bersama komunitas ibu-ibu hebat lainnya untuk saling mendukung, berbagi inspirasi parenting, dan mengikuti berbagai aktivitas menarik berhadiah.

​Jangan lupa juga untuk selalu menyediakan camilan dan produk favorit keluarga dari Unifam di rumah. Pastikan Bunda membelinya yang asli dan terpercaya hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia ya! Mari bersama Unifam, ciptakan momen-momen manis penuh kehangatan di tengah keluarga tercinta!

Berita Terpopuler


Berita Terbaru


Bagikan Artikel