Post pada 20 Apr 2026
Halo Bunda! Apa kabarnya hari ini? Semoga Bunda selalu sehat dan tetap semangat mendampingi tumbuh kembang Si Kecil yang sedang aktif-aktifnya ya.
Bunda, setiap tanggal 21 April, suasana biasanya meriah dengan pawai baju adat dan lomba-lomba untuk memperingati Hari Kartini. Seringkali, fokus kita tertuju pada anak perempuan—bagaimana mereka harus berani bermimpi dan menjadi mandiri. Tapi Bunda, pernah terpikir nggak kalau momen Kartini sebenarnya adalah waktu yang sangat tepat untuk berbicara kepada anak laki-laki kita?
Dunia yang setara dan aman bagi perempuan tidak akan terwujud tanpa peran laki-laki yang memiliki rasa hormat. Itulah mengapa, mengajarkan anak laki-laki menghargai perempuan bukan sekadar tentang sopan santun, tapi tentang membentuk karakter, empati, dan cara pandang mereka terhadap dunia.
Di artikel ini, kita akan membahas cara-cara mindful untuk menanamkan nilai tersebut pada Si Kecil laki-laki melalui percakapan harian, pilihan buku, hingga contoh nyata di rumah. Yuk, kita simak bersama!

Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa sih anak laki-laki harus diajarkan hal ini sejak dini?” Jawabannya sederhana: karena mereka akan tumbuh menjadi pria dewasa yang akan berinteraksi dengan perempuan dalam berbagai peran—sebagai rekan kerja, pemimpin, suami, atau ayah.
Bunda, mengajarkan empati gender berarti mengajari Si Kecil bahwa emosi, pendapat, dan hak perempuan sama berharganya dengan milik mereka. Ini sejalan dengan prinsip co-regulation di mana kita membantu Si Kecil mengenali emosinya sendiri agar ia lebih mudah memahami perasaan orang lain.
Belajar dari cara berkomunikasi dengan remaja yang efektif, kunci utama dalam menanamkan nilai adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Berikut langkah-langkahnya:
Dengan komunikasi yang hangat, Si Kecil akan merasa aman untuk berdiskusi tentang hal-hal sensitif, termasuk bagaimana seharusnya ia memperlakukan orang lain dengan adil.
Si Kecil adalah peniru yang ulung. Jika ia melihat Ayah membantu Bunda mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diminta, ia akan belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang “hanya untuk perempuan.”
Bunda bisa menerapkan kebiasaan berbagi peran di rumah, mirip dengan konsep disiplin dan kemandirian yang pernah kita bahas. Ketika Si Kecil melihat orang tuanya saling menghargai pendapat dan bekerja sama, ia akan menyerap nilai kesetaraan itu secara alami tanpa perlu banyak teori.

Berikut adalah daftar aktivitas dan kebiasaan yang bisa Bunda terapkan mulai hari ini:
Ajak Si Kecil membantu memasak atau melipat baju. Ajarkan bahwa kemandirian (seperti tips zero waste dalam mengelola barang pribadi) adalah tanggung jawab semua orang, bukan cuma perempuan.
Berikan buku cerita yang menampilkan tokoh perempuan hebat (pemimpin, ilmuwan, atau atlet). Biarkan Si Kecil mengagumi kecerdasan dan kekuatan perempuan melalui cerita.
Ajarkan Si Kecil untuk selalu meminta izin sebelum memegang barang atau menyentuh teman perempuannya. Ini adalah dasar dari rasa hormat terhadap ruang pribadi orang lain.
Jika Si Kecil bilang “Ah, itu kan mainan anak perempuan!”, Bunda bisa menanggapi dengan lembut, “Mainan itu buat siapa saja yang suka memainkannya, kok.”
Jangan pernah melarang anak laki-laki menangis dengan kalimat “Laki-laki harus kuat.” Anak yang mengenal emosinya akan tumbuh menjadi pria yang lebih peka terhadap perasaan perempuan.
Selain Kartini, ceritakan juga tentang tokoh perempuan masa kini yang inspiratif agar Si Kecil punya pandangan yang luas.
Dorong Si Kecil untuk bermain dalam kelompok yang isinya beragam, agar ia terbiasa bekerja sama dan dipimpin oleh perempuan.
Di era digital, Si Kecil terpapar banyak sekali konten. Bunda perlu selektif dalam memilih tontonan. Pastikan karakter laki-laki dalam film yang ia tonton adalah sosok yang menghargai perempuan dan tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sangat penting untuk membangun emotional awareness mereka sejak dini.
Selain selektif memilih karakter, Bunda juga bisa menjadikan momen menonton bersama sebagai sarana diskusi dua arah. Jika Si Kecil melihat adegan yang kurang pantas atau merendahkan perempuan, jangan langsung mematikan layar, tapi gunakan itu sebagai momen pembelajaran. Tanyakan padanya, ‘Menurut Kakak, sopan nggak ya kalau tokoh itu bicara begitu sama teman perempuannya?’.
Dengan mengajak Si Kecil berpikir kritis terhadap apa yang ia lihat, Bunda sedang melatih kemampuannya untuk membedakan perilaku yang benar dan salah di dunia nyata. Hal ini akan membentuk benteng moral yang kuat bagi Si Kecil agar tidak mudah terbawa arus pergaulan yang kurang sehat di masa depan.
Bunda, mendidik anak laki-laki menjadi pribadi yang menghargai perempuan adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk dunia. Hari Kartini adalah pengingat bahwa tugas kita bukan hanya memberdayakan anak perempuan, tapi juga memastikan anak laki-laki siap menjadi mitra yang setara.
Mari kita besarkan Si Kecil dengan penuh kasih sayang, kejujuran, dan rasa hormat. Dengan begitu, semangat Kartini akan terus hidup di dalam hati mereka, bukan hanya sebagai perayaan setahun sekali, tapi sebagai gaya hidup yang nyata.
Semangat terus ya Bunda dalam mendidik Si Kecil! Bunda tidak sendirian, Unifam hadir untuk terus menemani perjalanan hebat Bunda.
Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di Instagram @Unifam.id. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia biar lebih aman dan pasti asli!




