Articles

Habis Bentak Anak Terus Nyesel Sampai Nangis? Yuk, Peluk Diri Sendiri di Hari Kegagalan Internasional

Post pada 14 Oct 2026

​Pukul sembilan malam. Rumah baru saja hening setelah badai tantrum si Kecil yang berlangsung hampir dua jam. Di lantai dapur, ada ceceran susu yang tumpah, mainan bertaburan, dan Bunda, duduk bersandar di pintu kulkas sambil menutup muka, menangis sesenggukan.

​Saat itu, rasanya ada suara gaung di kepala yang berulang kali berbisik: “Kamu gagal, Bunda. Ibu lain bisa dengan sabar nenangin anaknya, kenapa kamu malah lepas kendali dan ikutan teriak?”

​Momen-momen seperti ini pasti terasa akrab kan, Bunda? Beberapa waktu lalu, ada seorang Bunda yang mengirim pesan lewat Direct Message (DM) ke komunitas kita. Ceritanya benar-benar menyentuh hati dan jujur banget:

​”Bunda, jujur aku malu banget mau cerita ini. Semalam aku emosi banget sama anakku yang nggak mau tidur padahal udah larut malam. Aku sempat bentak dia, padahal dia cuma mau dipeluk. Setelah dia tidur, aku nangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Aku merasa gagal banget jadi ibu. Kenapa ya susah banget untuk jadi ibu yang sempurna?”

​Membaca pesan itu, rasanya seperti melihat cermin. Percayalah, Bunda, kamu tidak sendirian. Semua ibu pernah berada di titik terendah itu. Momen ketika kita merasa menjadi orang tua paling buruk di dunia setelah lepas kontrol pada anak.

​Namun, bertepatan dengan menyambut Hari Kegagalan Internasional yang diperingati setiap tanggal 13 Oktober, mari kita rehat sejenak. Yuk, kita ubah cara pandang kita tentang arti sebuah kegagalan dalam mengasuh anak.

Baca juga: Bukan Cuma Bilang ‘Puk-Puk’, Ini Cara Efektif Dukung Pasangan yang Sedang Down dan Lelah Mental

Hari Kegagalan Internasional: Saatnya Mengubah Cara Pandang

​Mendengar kata “kegagalan” saja biasanya sudah membuat dada terasa sesak. Apalagi kalau dikaitkan dengan urusan mengasuh anak (parenting). Rasanya seperti ada beban berat yang menekan pundak.

​Padahal, Hari Kegagalan Internasional yang diperingati tiap 13 Oktober ini hadir justru untuk mengingatkan dunia tentang satu hal penting: kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah bagian paling alami dari proses belajar, tumbuh, dan menjadi manusia yang lebih baik.

​Sebagai ibu muda di era modern, tekanan yang kita hadapi luar biasa besar. Media sosial sering kali menampilkan potret pengasuhan yang serba indah dan tanpa cela: rumah yang selalu rapi, ibu yang selalu tersenyum manis saat anak tantrum, hingga masakan bekal anak yang estetik setiap hari. Tanpa disadari, kita menetapkan standar “ibu sempurna” yang tidak realistis untuk diri sendiri.

​Ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi indah di media sosial, kita langsung mencap diri sendiri telah gagal. Padahal, belajar dari kegagalan sebagai orang tua adalah fondasi paling kuat untuk membangun hubungan yang jujur, hangat, dan sehat dengan buah hati.

belajar dari kegagalan sebagai orang tua

Rentetan Rasa Gagal yang Sering Menghampiri Ibu Muda

​Kalau dirinci satu per satu, momen merasa gagal itu bisa muncul dari hal-hal yang terlihat sepele, tapi dampaknya bisa menguras emosi Bunda sepanjang hari:

  • ​Emosi yang Meledak di Luar Kendali: Janji di pagi hari untuk menjadi ibu yang lembut, tapi berubah jadi amukan saat anak menumpahkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau menolak mandi.
  • ​Perbandingan yang Membunuh Rasa Percaya Diri: Melihat anak tetangga atau anak influencer seusia yang sudah lancar bicara, sementara anak kita belum.
  • ​Rumah yang Seperti “Kapal Pecah”: Merasa tidak mampu menjaga kebersihan rumah, mengatur waktu kerja, sekaligus menemani anak bermain.
  • ​Rasa Bersalah Working Mom maupun SAHM: Ibu bekerja merasa bersalah karena kehilangan momen bersama anak, sementara ibu rumah tangga (Stay at Home Mother) merasa bersalah karena sering merasa jenuh dan kelelahan.

​Setiap kali momen-momen ini terjadi, refleks pertama kita sering kali adalah menghakimi diri sendiri secara kejam. Kita membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain. Padahal, daripada terus-menerus menyalahkan diri sendiri, inilah momen paling tepat untuk menyapa diri dengan self-compassion.

Baca juga: Self-Care Learning: Belajar Pola Hidup Preventif sebagai Bentuk Cinta pada Diri Sendiri dan Keluarga

​Mengenal Self-Compassion: Bermurah Hati pada Diri Sendiri saat Momong Anak

​Apa sih self-compassion itu, Bunda? Sederhananya, self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap baik, lembut, dan memahami diri sendiri ketika kita mengalami kegagalan, kesusahan, atau merasa tidak sempurna.

​Bayangkan jika sahabat tercinta Bunda datang sambil menangis dan bercerita bahwa dia baru saja kehilangan kesabaran pada anaknya. Apa yang akan Bunda katakan padanya? Apakah Bunda akan memaki dia dan menyebutnya “ibu yang buruk”? Tentu tidak, bukan? Bunda pasti akan memeluknya, menenangkannya, dan berkata, “Nggak apa-apa, kamu cuma capek. Kamu tetap ibu yang luar biasa kok.”

​Anehnya, mengapa kita begitu mudah memberikan empati dan kasih sayang kepada orang lain, tetapi sangat pelit berbuat hal yang sama kepada diri sendiri?

​Menerapkan self-compassion saat momong anak bukan berarti kita mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang salah. Menerapkan self-compassion artinya kita mengakui bahwa kita adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan, bisa lelah, dan bisa membuat kesalahan.

​Saat Bunda merasa gagal, coba lakukan tiga langkah dasar self-compassion ini:

  1. ​Akui Perasaan Tanpa Menghakimi (Mindfulness): Katakan pada diri sendiri, “Aku lagi capek banget, dan emosiku lagi kurang baik saat ini. Nggak apa-apa merasakan hal ini.”
  2. ​Sadari Bahwa Ini Hal yang Wajar (Common Humanity): Ingatkan diri Bunda bahwa tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini. Semua ibu pernah melakukan kesalahan dan merasa kewalahan. Bunda tidak sendirian.
  3. ​Berikan Kebaikan pada Diri Sendiri (Self-Kindness): Tarik napas dalam-dalam, usap dada sendiri, dan berikan kata-kata penguatan seperti yang akan Bunda katakan pada sahabat terbaik Bunda.

Baca juga: Bye-Bye “Ibu Sempurna”: Cara Mengatasi Mom Guilt dan Fokus pada Self-Compassion di Bulan Ramadan

Anak Tidak Butuh Orang Tua Sempurna, Anak Butuh Orang Tua yang Jujur

​Banyak dari kita yang berusaha keras menyembunyikan emosi negatif, kesalahan, atau kebiasaan buruk di depan anak karena ingin terlihat sebagai orang tua yang sempurna. Kita takut anak akan hilang rasa hormat jika melihat orang tuanya menangis, marah, atau membuat kesalahan.

​Padahal, menyembunyikan kelemahan dari anak justru kurang baik bagi perkembangan emosional mereka. Ketika orang tua berpura-pura selalu sempurna dan tidak pernah salah, anak-anak akan tumbuh dengan standar yang tidak realistis. Mereka akan merasa bahwa berbuat salah adalah dosa besar yang membuat mereka menjadi orang yang buruk.

​Sebaliknya, saat kita berani jujur dan mengakui kesalahan di depan anak, kita sedang mengajarkan pelajaran hidup yang luar biasa mahal.

​Bayangkan saat Bunda lepas kontrol dan membentak si Kecil, alih-alih berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Bunda menghampirinya setelah emosi mendingin, lalu berkata:

​“Kak, maafin Bunda ya. Tadi Bunda teriak karena Bunda capek dan bingung, tapi cara Bunda marah itu salah. Bunda minta maaf ya.”

​Tindakan sederhana ini mengajarkan anak beberapa hal mendasar sekaligus:

  1. ​Pengelolaan Emosi: Anak melihat bahwa emosi adalah hal yang wajar, tetapi ada cara yang benar dan salah dalam mengekspresikannya.
  2. ​Keberanian Meminta Maaf: Anak belajar bahwa meminta maaf saat melakukan kesalahan bukanlah hal yang memalukan, melainkan bentuk tanggung jawab.
  3. ​Empati dan Rasa Aman: Anak merasa dihargai dan tahu bahwa kasih sayang Bunda tidak hilang meskipun situasi sempat memburuk.

Baca juga: 5 Ide Kemah Keluarga ala Pramuka: Belajar Mandiri Lewat Petualangan di Alam

Mengubah Kesalahan Menjadi Ruang Belajar Bersama Buah Hati

​Anak-anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka tidak belajar dari apa yang kita perintahkan, melainkan dari apa yang mereka lihat kita lakukan. Ketika kita belajar dari kegagalan sebagai orang tua, secara tidak langsung kita juga mengajarkan anak cara belajar dari kesalahan mereka sendiri.

​Berikut adalah 5 langkah praktis untuk mengolah rasa gagal menjadi momen pembelajaran yang bermakna di rumah:

​1. Maafkan Diri Sendiri Terlebih Dahulu

​Bunda tidak bisa memperbaiki situasi atau memberikan pelukan hangat pada anak jika dada Bunda masih penuh dengan rasa bersalah dan kebencian pada diri sendiri. Tenangkan diri, beri jarak sejenak jika memungkinkan, tarik napas dalam-dalam, dan maafkan diri Bunda.

​2. Turunkan Gengsi dan Berani Minta Maaf

​Jangan ragu untuk berinisiatif meminta maaf pada si Kecil saat Bunda sadar telah lepas kontrol. Menyampaikan permohonan maaf yang tulus menunjukkan pada anak bahwa berbuat salah itu hal yang manusiawi, dan meminta maaf adalah bentuk keberanian serta rasa tanggung jawab.

​3. Bicarakan Kesalahan Secara Terbuka

​Gunakan bahasa yang sederhana sesuai usia anak. Ceritakan apa yang terjadi dan mengapa reaksi Bunda tadi kurang tepat. Kebiasaan jujur ini akan membangun kepercayaan yang sangat kuat antara Bunda dan si Kecil hingga ia dewasa nanti.

​4. Ajak Anak Cari Solusi Bersama

​Libatkan anak untuk menemukan jalan keluar. Bunda bisa bertanya, “Kira-kira besok kalau Bunda lagi capek atau Kakak lagi nggak mau mandi, apa yang bisa kita lakuin bareng supaya nggak ada yang teriak-teriak lagi ya?” Langkah ini melatih kemampuan anak dalam memecahkan masalah (problem solving).

​5. Rayakan Setiap Proses Kecil, Bukan Hasil Akhir

​Fokuslah pada usaha perbaikan yang dilakukan, baik oleh Bunda maupun anak. Jika hari ini Bunda berhasil menahan emosi lebih baik dari kemarin, atau si Kecil mau mendengarkan saat diajak bicara tenang, itu adalah sebuah kemenangan kecil yang sangat layak diakui dan dirayakan bersama!

Baca juga: Tak Perlu Sempurna untuk Jadi Ibu Hebat: Memaknai Perjalanan Menyusui dengan Hati

Pelukan Hangat untuk Bunda yang Sedang Berjuang dan Tumbuh Bersama Unifam

Temani Perjalanan Tumbuh Kembang Buah Hati Bersama Unifam

Perjalanan membersamai anak penuh dengan pembelajaran dan momen berharga setiap harinya. Sempurnakan kebersamaan hangat di rumah dengan menghadirkan camilan bernutrisi berkualitas dari Unifam yang aman, lezat, dan menyenangkan untuk menemani hari-hari si Kecil.

​Menjadi ibu adalah perjalanan paling panjang, paling menantang, sekaligus paling indah dalam hidup. Tidak ada buku panduan yang bisa menjamin perjalanan ini akan mulus tanpa hambatan. Setiap anak unik, dan setiap ibu memiliki jalannya masing-masing.

​Momen merasa gagal bukanlah tanda bahwa Bunda adalah ibu yang buruk. Justru rasa bersalah yang hadir itu menunjukkan betapa besarnya rasa sayang dan peduli Bunda kepada buah hati. Ibu yang tidak peduli tidak akan pernah merasa bersalah atau merasa gagal.

​Jadi, pada momen Hari Kegagalan Internasional ini, mari kita lepaskan jubah “ibu sempurna” yang selama ini membebankan langkah kita. Peluk diri sendiri dengan erat, bersikaplah lebih lembut pada hati yang sudah berjuang keras setiap hari. Ketika Bunda bahagia, damai, dan penuh dengan self-compassion, energi positif itulah yang akan mengalir hangat ke seluruh penjuru rumah dan menyelimuti tumbuh kembang buah hati tercinta.

​Sebab, setiap langkah dalam mengasuh anak adalah petualangan belajar yang berharga. Untuk menemani indahnya perjalanan parenting Bunda dan menghadirkan keceriaan di tengah momen kebersamaan keluarga, Unifam selalu hadir menjadi sahabat setia.

​Ingin mendapatkan lebih banyak cerita seru, tips parenting yang relatable, hingga informasi menarik seputar tumbuh kembang anak? Yuk, langsung ikuti dan follow Instagram resmi kami di @Unifam.id! Jangan ragu untuk berbagi cerita dan pengalaman Bunda di kolom komentar atau DM, karena di sana kita bisa saling menguatkan satu sama lain.

​Bunda juga bisa melengkapi momen kebahagiaan dan camilan favorit keluarga dengan produk-produk berkualitas dari Unifam. Pastikan Bunda selalu membeli produk asli dan terpercaya hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia. Belanja nyaman dari rumah, keceriaan keluarga pun selalu terjaga.

Berita Terpopuler


Berita Terbaru


Bagikan Artikel