Articles

Ubah Panik Jadi Tenang: Seni Mindful Response Saat Si Kecil Kejang Demam Tanpa Histeris

Post pada 06 Feb 2026

Halo, Bunda! Pernahkah Bunda membayangkan atau bahkan mengalami sendiri momen di mana tiba-tiba tubuh Si Kecil kaku, matanya mendelik ke atas, dan ia tidak merespons panggilan Bunda? Bagi orang tua mana pun, melihat Si Kecil mengalami kejang demam (atau sering disebut step) adalah pemandangan yang sangat menakutkan. Rasanya jantung mau copot dan dunia seolah berhenti berputar.

Namun, tahukah Bunda? Senjata paling ampuh yang harus Bunda miliki di kotak P3K bukanlah hanya termometer atau obat penurun panas, melainkan Ketenangan. Dalam dunia kesehatan mental dan parenting, ini disebut sebagai Mindful Response. Mengubah kepanikan yang impulsif menjadi kesadaran (awareness) yang terukur.

Mengapa ini penting? Karena saat Bunda histeris, Bunda kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih dan melakukan tindakan penyelamatan yang benar. Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Internasional tanggal 9 Februari, mari kita bedah bersama bagaimana cara mengelola emosi dan tindakan tepat saat Si Kecil mengalami kejang demam, agar kita tidak melakukan kesalahan yang justru membahayakan keselamatannya.

Baca juga: Mindful Parenting: Sentuhan Ajaib Ibu, Kunci Mengasuh Si Kecil dari Hati ke Hati

Apa Itu Kejang Demam? Tidak Seseram yang Dibayangkan, Kok!

cara mengatasi kejang demam anak dengan tenang
Kenali cara mengatasi kejang demam anak dengan tenang

Berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang dipicu oleh kenaikan suhu tubuh di atas 38°C. Penting untuk Bunda pahami bahwa kejang demam berbeda dengan epilepsi. Kejang demam biasanya akan berhenti sendiri dan tidak merusak fungsi otak Si Kecil jika ditangani dengan benar.

Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa kejang demam adalah reaksi otak anak yang masih sensitif terhadap kenaikan suhu yang drastis. Jadi, langkah pertama untuk tenang adalah memahami bahwa ini adalah “lonjakan listrik” sementara di otak Si Kecil yang umumnya tidak berbahaya.

Baca juga: 10+ Tanda Bahaya pada Bayi yang Perlu Diwaspadai dan Diketahui Bunda

Mengapa Bunda Dilarang Histeris Saat Anak Mengalami Kejang karena Demam?

Mungkin Bunda bertanya, “Namanya juga panik, gimana mau tenang?” Begini alasannya, Bunda:

  • Risiko Cedera: Saat panik, Bunda cenderung melakukan tindakan agresif seperti mengguncang tubuh Si Kecil atau memasukkan sendok ke mulutnya. Ini sangat berbahaya.
  • Transfer Energi: Si Kecil, meski dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya, bisa merasakan ketegangan di sekitarnya. Suasana yang tenang membantu proses pemulihan lebih baik.
  • Kehilangan Waktu Berharga: Panik membuat Bunda lupa melihat jam. Padahal, durasi kejang adalah informasi krusial bagi dokter nantinya.

Baca juga: Daftar Imunisasi Wajib Anak sampai usia 18 Tahun

Panduan Mindful P3K: Langkah Sadar Saat Si Kecil Kejang

kenali cara mengatasi kejang demam pada anak dengan tenang

Ketika melihat Si Kecil mulai kejang, tubuh Bunda mungkin secara alami akan menegang dan otak mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan. Di sinilah Mindful P3K berperan. Alih-alih membiarkan diri Bunda terseret dalam arus kepanikan, mari kita ambil napas dalam sejenak dan aktifkan “mode observasi”. Ingat Bunda, Si Kecil saat ini sedang membutuhkan sosok yang tenang untuk menjaganya tetap aman. Dengan kesadaran penuh, setiap gerakan yang Bunda lakukan bukan lagi berdasarkan rasa takut, melainkan berdasarkan langkah penyelamatan yang terukur. Mari kita terapkan langkah-langkah praktis berikut ini dengan kepala dingin dan hati yang sabar.

1. Letakkan Si Kecil di Tempat yang Aman dan Rata

Segera pindahkan Si Kecil ke lantai atau kasur yang luas. Jauhkan dari benda-benda tajam, keras, atau benda pecah belah. Jangan mencoba menahan gerakan tubuh Si Kecil secara paksa. Biarkan saja ia bergerak sesuai ritme kejangnya.

2. Miringkan Tubuh Si Kecil (Langkah Krusial!)

Ini adalah bagian terpenting dari P3K kejang demam. Miringkan tubuh Si Kecil ke salah satu sisi (kanan atau kiri).

  • Tujuannya: Agar jalan napas tetap terbuka.
  • Mencegah Tersedak: Jika ada sisa makanan, ludah, atau muntahan di mulutnya, cairan tersebut akan keluar lewat samping dan tidak masuk ke paru-paru (aspirasi).

3. JANGAN Masukkan Apapun ke Dalam Mulut

Bunda mungkin pernah dengar mitos harus mengganjal mulut anak dengan sendok atau jari agar lidahnya tidak tergigit. Tolong jangan dilakukan ya, Bunda! * Memasukkan benda keras bisa mematahkan gigi Si Kecil.

  • Bisa menyumbat jalan napas.
  • Lidah tergigit saat kejang sangat jarang terjadi dan biasanya luka kecil yang bisa sembuh sendiri. Risiko tersumbatnya napas jauh lebih berbahaya daripada risiko lidah tergigit.

4. Longgarkan Pakaian yang Ketat

Buka kancing baju bagian atas atau kendurkan ikat pinggang jika ada. Hal ini membantu Si Kecil bernapas lebih lega dan membantu menurunkan suhu tubuhnya secara bertahap.

5. Amati dan Catat Waktunya

Di sinilah Mindful Response diuji. Sambil menarik napas dalam, lihat jam.

  • Berapa lama kejang berlangsung?
  • Bagian tubuh mana yang bergerak?
  • Bagaimana arah matanya?

Informasi ini akan sangat membantu dokter untuk menentukan apakah ini kejang demam sederhana atau kompleks.

Baca juga: Mindful Discipline: Trik Mengatasi Anak Mogok Sekolah Tanpa Perlu Emosi

Tips Menjaga Ketenangan Saat Anak Kejang

Membangun ketenangan itu butuh latihan. Bunda bisa mencoba teknik ini saat sedang tidak dalam kondisi darurat agar terbiasa:

  1. Teknik Napas Kotak (Box Breathing): Tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 4 detik, tahan 4 detik. Ini membantu menurunkan detak jantung Bunda yang berdegup kencang.
  2. Self-Talk Positif: Bisikkan dalam hati, “Si Kecil akan baik-baik saja, saya sedang menolongnya sekarang.”
  3. Hadir Utuh: Fokus pada apa yang Bunda lihat sekarang, bukan ketakutan tentang masa depan yang belum tentu terjadi.

Kapan Bunda Harus Segera ke Rumah Sakit Jika Anak Kejang?

Meskipun kejang demam umumnya tidak berbahaya, Bunda harus tetap waspada dan segera membawa Si Kecil ke IGD jika menemui kondisi berikut:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Kejang terjadi berulang dalam waktu 24 jam.
  • Si Kecil tidak kunjung sadar atau tampak sangat lemas setelah kejang berhenti.
  • Kejang disertai dengan sesak napas atau wajah membiru.
  • Kejang terjadi saat suhu tubuh Si Kecil tidak terlalu tinggi (ada indikasi lain).

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Setelah kejang berhenti, pastikan Bunda memberikan Si Kecil asupan cairan yang cukup. Berikan obat penurun panas sesuai dosis dokter jika ia masih demam. Mengompres dengan air hangat (bukan air dingin atau es) di area lipatan ketiak dan selangkangan juga sangat membantu menurunkan suhu tubuh secara alami.

Jangan lupa untuk selalu menyediakan stok obat penurun panas dan termometer yang akurat di rumah ya, Bunda. Deteksi dini demam adalah kunci utama mencegah terjadinya kejang demam berulang.

Ketenangan Adalah Bentuk Cinta Terbesar

Menghadapi Si Kecil yang kejang demam memang ujian mental yang luar biasa bagi setiap orang tua. Namun, dengan menerapkan Mindful Response, Bunda telah memberikan perlindungan terbaik bagi Si Kecil. Ingatlah bahwa ketenangan saat anak kejang adalah kunci agar prosedur P3K bisa berjalan maksimal. Jangan biarkan rasa takut mengambil alih kendali diri Bunda. Bunda adalah pahlawan pertama bagi Si Kecil, dan pahlawan yang hebat adalah mereka yang mampu tetap tenang di tengah badai.

Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di Instagram @Unifam.id. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia biar lebih aman dan pasti asli!

Berita Terpopuler


Berita Terbaru


Bagikan Artikel