{"id":7634,"date":"2026-04-15T09:00:00","date_gmt":"2026-04-15T02:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/unifam.com\/blog\/"},"modified":"2026-04-15T06:45:09","modified_gmt":"2026-04-14T23:45:09","slug":"kenali-toxic-positivity-parenting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unifam.com\/en\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting","title":{"rendered":"Memaksa Si Kecil Bahagia? Hati-hati Terjebak Toxic Positivity, Bunda!"},"content":{"rendered":"","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":6,"featured_media":7635,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"category-3","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-7634","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"acf":{"short_description":"Sering kali kita tanpa sadar meminta Si Kecil untuk selalu tersenyum dan melarangnya bersedih dengan niat menghibur. Namun tahukah Bunda, kebiasaan menuntut anak untuk \"selalu positif\" ini bisa mengarah pada toxic positivity parenting yang justru menghambat kecerdasan emosionalnya? Yuk kenali apa itu toxic positivity parenting, bahaya dan cara mengatasinya di sini. ","post_content":"<script type=\"application\/ld+json\">\r\n{\r\n  \"@context\": \"https:\/\/schema.org\",\r\n  \"@type\": \"BlogPosting\",\r\n  \"mainEntityOfPage\": {\r\n    \"@type\": \"WebPage\",\r\n    \"@id\": \"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali toxic-positivity-parenting \"\r\n  },\r\n  \"headline\": \"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya\",\r\n  \"description\": \"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.\",\r\n  \"image\": \"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp\",  \r\n  \"author\": {\r\n    \"@type\": \"Organization\",\r\n    \"name\": \"Unifam\",\r\n    \"url\": \"https:\/\/unifam.com\"\r\n  },  \r\n  \"publisher\": {\r\n    \"@type\": \"Organization\",\r\n    \"name\": \"Unifam\",\r\n    \"logo\": {\r\n      \"@type\": \"ImageObject\",\r\n      \"url\": \"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/logo-unifam.svg<span data-mce-type=\"bookmark\" style=\"display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;\" class=\"mce_SELRES_start\">\ufeff<\/span>\"\r\n    }\r\n  },\r\n  \"datePublished\": \"2026-04-15\",\r\n  \"dateModified\": \"2026-04-15\"\r\n}\r\n<\/script><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah Bunda melihat Si Kecil menangis karena es krimnya jatuh, lalu secara spontan kita berkata, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\"Sudah, jangan nangis, cuma es krim kok, nanti beli lagi! Ayo senyum, anak pintar nggak boleh sedih!\"<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Kalimat ini terdengar seperti bentuk penghiburan yang positif, bukan? Kita tentu ingin Si Kecil segera merasa lebih baik dan kembali ceria. Namun, tanpa disadari, kebiasaan terus-menerus mendorong anak untuk \"selalu positif\" tanpa memberi ruang bagi emosi negatifnya dikenal sebagai toxic positivity.<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Dalam dunia parenting, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toxic positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah fenomena di mana kita menuntut diri sendiri dan anak untuk hanya menampilkan emosi menyenangkan. Padahal, emosi seperti sedih, marah, kecewa, atau takut adalah bagian alami dari pengalaman manusia.\u00a0<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Saat kita terlalu buru-buru menghibur Si Kecil alih-alih memvalidasi perasaannya, kita sebenarnya sedang menutup pintu komunikasi emosional yang sehat. Artikel ini akan membedah mengapa memaksa kebahagiaan itu berbahaya dan bagaimana pendekatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mindful<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa membantu Si Kecil tumbuh dengan kecerdasan emosional yang kuat.<\/span>\r\n<h2><b>Mengenal Wajah <em>Toxic Positivity<\/em> dalam Keseharian Bunda<\/b><\/h2>\r\n<i><span style=\"font-weight: 400;\">Toxic positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sering kali muncul dengan niat baik. Kita ingin keluarga kita sehat secara fisik dan mental, mirip dengan bagaimana kita memulai kebiasaan hidup sehat seperti menjaga asupan nutrisi atau kebersihan di rumah. Namun, kesehatan mental tidak hanya soal merasa \"enak\" sepanjang waktu.<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Bahaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toxic positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terletak pada penolakan terhadap realitas emosional. Ketika kita mengatakan \"jangan sedih\" atau \"ambil hikmahnya saja\" saat Si Kecil sedang hancur hatinya, kita memberikan pesan tersirat bahwa emosinya salah atau memalukan. Ini menciptakan jarak antara apa yang Si Kecil rasakan di dalam hati dengan apa yang harus ia tampilkan di hadapan Bunda.<\/span>\r\n<h2><b>5 Alasan Mengapa Toxic Positivity Parenting Bahaya untuk Anak<\/b><\/h2>\r\n[caption id=\"attachment_7636\" align=\"aligncenter\" width=\"640\"]<img class=\"wp-image-7636 size-full\" src=\"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/pexels-elly-fairytale-3806962.webp\" alt=\"bahaya toxic positivity parenting\" width=\"640\" height=\"427\" \/> Kenali apa itu toxic positivity parenting, bahayanya dan cara mengatasinya[\/caption]\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Agar lebih jelas, mari kita bedah dalam daftar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">listicle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berikut mengapa memaksakan aura positif bisa berdampak buruk bagi perkembangan mental Si Kecil:<\/span>\r\n<h3><b>Menghambat Kecerdasan Emosional (EQ)<\/b><\/h3>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Si Kecil perlu belajar mengenali nama-nama emosinya. Jika setiap kali ia sedih kita menyuruhnya berhenti, ia tidak akan pernah belajar bagaimana cara mengelola rasa sedih tersebut.<\/span>\r\n<h3><b>Menciptakan Rasa Bersalah yang Tidak Perlu<\/b><\/h3>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Saat Si Kecil merasa buruk tetapi dituntut untuk bahagia, ia akan berpikir, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\"Ada yang salah dengan diriku karena aku tidak bisa merasa senang.\"<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Hal ini bisa menurunkan rasa percaya dirinya.<\/span><b><\/b>\r\n<h3><b>Memutuskan Koneksi dan Kepercayaan<\/b><\/h3>\r\nJika Bunda selalu merespons curhatan Si Kecil dengan kalimat \"sudahlah, jangan dipikirkan,\" lama-kelamaan ia akan merasa Bunda tidak memahaminya. Akibatnya, ia mungkin akan berhenti bercerita kepada Bunda saat menghadapi masalah besar di masa depan.<b><\/b><b><\/b>\r\n<h3><b>Risiko Ledakan Emosi di Kemudian Hari<\/b><b><\/b><\/h3>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Emosi yang dipendam atau ditekan tidak akan hilang. Mereka hanya tersimpan dan bisa meledak kapan saja dalam bentuk perilaku agresif, tantrum yang hebat, atau gangguan kecemasan saat ia dewasa nanti.<\/span><b><\/b>\r\n<h3><b>Anak Kesulitan Menunjukkan Empati<\/b><b><\/b><\/h3>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Jika ia tidak terbiasa divalidasi emosinya, ia juga akan kesulitan memahami perasaan orang lain. Ia mungkin tumbuh menjadi pribadi yang kurang peka terhadap penderitaan teman sebayanya.<\/span>\r\n<h4>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/unifam.com\/blog\/mengembangkan-kecerdasan-emosional-anak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak, Ini Langkah Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Tua<\/a><\/h4>\r\n<h2><b>Berpindah ke Mindful Parenting: Validasi Adalah Kunci<\/b><\/h2>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih memberikan penghiburan instan, Bunda bisa mencoba pendekatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mindful parenting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini berarti kita hadir sepenuhnya untuk Si Kecil, menerima apa pun yang ia rasakan tanpa menghakimi. Mengakui bahwa emosi negatif itu normal adalah langkah pertama untuk membangun kesehatan mental keluarga yang kokoh.<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Validasi bukan berarti kita setuju dengan perilakunya (misalnya, tetap tidak boleh memukul meski sedang marah), tapi kita mengakui perasaannya. Bunda bisa mencoba kalimat seperti: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\"Bunda tahu kamu sedih karena mainannya rusak. Sedih itu nggak apa-apa kok. Sini, Bunda peluk dulu sampai kamu merasa tenang.\"<\/span><\/i>\r\n<h4>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-mindful-parenting-apa-peran-dan-contoh-untuk-bunda-terapkan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mindful Parenting: Sentuhan Ajaib Ibu, Kunci Mengasuh Si Kecil dari Hati ke Hati<\/a><\/h4>\r\n<h2><b>Langkah Praktis Memulai Pola Asuh yang Sehat secara Emosional<\/b><\/h2>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Sama halnya dengan menerapkan pola hidup sehat melalui makanan bergizi dan olahraga, membangun mental yang tangguh juga butuh latihan konsisten. Berikut beberapa hal yang bisa Bunda terapkan:<\/span>\r\n\r\n<b>Dengarkan Tanpa Interupsi<\/b>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Saat Si Kecil bercerita, beri ia waktu untuk menyelesaikan kalimatnya meskipun ia sambil terisak.<\/span>\r\n\r\n<b>Bantu Menamai Emosi<\/b>\r\n\r\n<i><span style=\"font-weight: 400;\">\"Sepertinya kamu sedang merasa kecewa ya, Nak?\"<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membantu Si Kecil memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.<\/span>\r\n\r\n<b>Jadilah Contoh yang Jujur<\/b>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Jangan ragu menunjukkan kalau Bunda juga bisa merasa lelah atau sedih. Katakan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\"Bunda lagi agak sedih hari ini, jadi Bunda mau istirahat sebentar ya.\"<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ini mengajarkan Si Kecil bahwa emosi negatif adalah hal yang manusiawi.<\/span>\r\n\r\n<b>Fokus pada Proses, Bukan Hasil<\/b>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Saat Si Kecil gagal dalam sesuatu, hargai usahanya daripada sekadar berkata \"yang penting sudah coba, jangan sedih.\"<\/span>\r\n<h4>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/unifam.com\/blog\/gaya-pola-asuh-anak-di-jepang-yang-bisa-ditiru\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengintip Rahasia Parenting dari Negeri Sakura: Bagaimana Orang Tua di Jepang \u201cMencetak\u201d Anak Mandiri dan Penuh Empati<\/a><\/h4>\r\n<h2><b>Memeluk Seluruh Warna Emosi Si Kecil<\/b><\/h2>\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang tua yang positif bukan berarti kita harus selalu tersenyum dan menghindari konflik. Parenting yang sehat justru adalah ketika kita mampu menemani Si Kecil melewati badai emosinya, bukan hanya saat cuaca sedang cerah.\u00a0<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Dengan berhenti memaksakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toxic positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bunda sedang memberikan hadiah terbesar bagi Si Kecil: keberanian untuk menjadi diri sendiri dan ketangguhan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup di masa depan. Mari kita mulai memvalidasi, karena setiap perasaan Si Kecil adalah berharga.<\/span>\r\n\r\n<span style=\"font-weight: 400;\">Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di <\/span><b>Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/unifam.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">@Unifam.id<\/a><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di <\/span><b>Toko Official Unifam<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> di<\/span><b><a href=\"https:\/\/shopee.co.id\/unifamofficial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Shopee<\/a> <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><a href=\"https:\/\/www.tokopedia.com\/unifamofficial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Tokopedia<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> biar lebih aman dan pasti asli!<\/span>"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/unifam.com\/en\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/unifam.com\/en\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"United Family Food\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-15T02:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-14T23:45:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Editor\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Editor\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\",\"url\":\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\",\"name\":\"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp\",\"datePublished\":\"2026-04-15T02:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-14T23:45:09+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/a7a38002b85d5941bffbcd9bca45bd95\"},\"description\":\"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp\",\"width\":1536,\"height\":1024,\"caption\":\"toxic positivity parenting\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/unifam.com\/\",\"name\":\"United Family Food\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/unifam.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/a7a38002b85d5941bffbcd9bca45bd95\",\"name\":\"Editor\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/add96a985db625f89c1aadb117ab465589009766b2c3cab79a10cd55246a92a9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/add96a985db625f89c1aadb117ab465589009766b2c3cab79a10cd55246a92a9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Editor\"},\"url\":\"https:\/\/unifam.com\/en\/author\/editor\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food","description":"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/unifam.com\/en\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food","og_description":"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.","og_url":"https:\/\/unifam.com\/en\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting\/","og_site_name":"United Family Food","article_published_time":"2026-04-15T02:00:00+00:00","article_modified_time":"2026-04-14T23:45:09+00:00","og_image":[{"width":1536,"height":1024,"url":"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Editor","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Editor","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting","url":"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting","name":"Toxic Positivity Parenting: Bahaya dan Cara Mengatasinya | United Family Food","isPartOf":{"@id":"https:\/\/unifam.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp","datePublished":"2026-04-15T02:00:00+00:00","dateModified":"2026-04-14T23:45:09+00:00","author":{"@id":"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/a7a38002b85d5941bffbcd9bca45bd95"},"description":"Sering menyuruh anak berhenti menangis? Hati-hati terjebak toxic positivity parenting. Yuk Bunda, kenali bahayanya dan terapkan mindful parenting di sini.","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/unifam.com\/blog\/kenali-toxic-positivity-parenting#primaryimage","url":"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp","contentUrl":"https:\/\/unifam.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/toxic-positivity-parenting.webp","width":1536,"height":1024,"caption":"toxic positivity parenting"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/unifam.com\/#website","url":"https:\/\/unifam.com\/","name":"United Family Food","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/unifam.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/a7a38002b85d5941bffbcd9bca45bd95","name":"Editor","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/unifam.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/add96a985db625f89c1aadb117ab465589009766b2c3cab79a10cd55246a92a9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/add96a985db625f89c1aadb117ab465589009766b2c3cab79a10cd55246a92a9?s=96&d=mm&r=g","caption":"Editor"},"url":"https:\/\/unifam.com\/en\/author\/editor"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7634","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7634"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7634\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7638,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7634\/revisions\/7638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7634"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unifam.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}