Post pada 09 Apr 2026
Halo, Bunda! Coba deh, jujur sama di sini. Pernah nggak sih, malam-malam pas anak sudah tidur dan badan rasanya mau rontok, Bunda malah asyik scrolling Instagram? Awalnya sih niatnya mau healing sejenak, tapi kok lama-lama perasaan malah jadi campur aduk?
Melihat feed para momfluencer yang rumahnya selalu rapi tanpa sehelai benang pun di lantai, anak-anaknya makan lahap tanpa drama GTM, sampai penampilan si Bunda yang tetap glowing meski baru punya bayi. Sementara itu, di dunia nyata kita, cucian piring masih menumpuk, rambut cuma sempat dicepol asal, dan mata panda nggak bisa ditutupi skincare semahal apa pun.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dengan momfluencer, dan inilah awal mula kenapa rasa lelah fisik jadi ditambah lelah mental. Yuk, kita kupas tuntas kenapa hal ini terjadi dan gimana cara kita tetap waras di tengah gempuran standar “ibu sempurna” di media sosial.

Bunda perlu ingat satu hal penting: Instagram adalah highlight reel, bukan behind the scene. Apa yang kita lihat di layar HP itu sudah melewati proses kurasi yang ketat. Ada pencahayaan yang diatur, sudut pengambilan gambar yang pas, hingga proses editing yang panjang.
Saat seorang momfluencer memposting video bekal anak yang estetik dengan bentuk karakter lucu, kita nggak lihat dapur yang mungkin berantakan setelah proses pembuatannya. Kita juga nggak lihat drama di balik layar kalau ternyata anaknya mogok makan atau justru menumpahkan makanan itu sedetik setelah video selesai diambil.
Menurut beberapa riset, Instagram sering disebut sebagai salah satu platform media sosial yang paling berpengaruh negatif pada kesehatan mental jika tidak digunakan dengan bijak. Kenapa? Karena sifatnya yang sangat visual memicu kita untuk melakukan perbandingan sosial secara otomatis. Kita membandingkan “kekurangan” kita yang nyata dengan “kelebihan” orang lain yang sudah difilter.
Bunda, efek negatif membandingkan diri dengan momfluencer itu nyata adanya. Bukan cuma sekadar rasa iri sesaat, tapi bisa berdampak lebih dalam pada kesejahteraan mental kita:
Sebagai manusia, kita punya dorongan alami untuk membandingkan diri dengan orang lain guna mengukur posisi kita di masyarakat. Di zaman dulu, kita cuma membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah. Tapi sekarang? Kita membandingkan diri dengan jutaan orang di seluruh dunia hanya dalam satu genggaman tangan.
Istilahnya adalah Comparison Culture. Di kalangan ibu muda, budaya ini tumbuh subur karena adanya rasa haus akan validasi. Menjadi ibu itu pekerjaan yang berat dan seringkali kurang diapresiasi secara langsung. Jadi, saat melihat ada ibu lain yang tampak sukses melakukan semuanya, kita merasa ada “standar baku” yang harus kita capai agar dianggap sebagai ibu yang berhasil.
Padahal, Bunda, standar setiap keluarga itu berbeda-beda. Kondisi ekonomi, bantuan support system, hingga karakter anak setiap orang itu unik. Tidak bisa disamaratakan.

Kalau Bunda mulai merasa sesak napas, dada berdebar, atau mendadak bad mood setiap kali menutup aplikasi Instagram, itu adalah sinyal merah dari kesehatan mental Bunda. Tandanya, Bunda butuh “detoks” digital atau setidaknya mengatur ulang cara Bunda berinteraksi dengan dunia maya.
Yuk, coba terapkan 5 langkah konkret ini supaya jempol kita nggak jadi sumber lelahnya hati:
Setiap kali sebuah postingan mampir di feed, coba lakukan audit perasaan instan. Tanyakan ke diri sendiri: “Setelah lihat ini, aku jadi pengen coba resep baru (semangat) atau malah merasa jadi ibu yang gagal (payah)?” Ada akun yang memang tujuannya berbagi ilmu, tapi ada juga yang, tanpa sengaja, malah memicu rasa minder kita.
Kalau kontennya cuma bikin Bunda membandingkan nasib, kondisi rumah, sampai bentuk badan, jangan ragu untuk klik tombol Mute atau Unfollow. Ingat Bunda, privasi mental kita adalah prioritas utama. Mengikuti akun yang bikin kita merasa “kurang” itu ibarat sengaja membiarkan orang asing masuk ke rumah hanya untuk mengkritik cara kita mengasuh anak. Big no!
Bunda harus punya kacamata objektif: bagi para momfluencer, Instagram adalah kantor mereka. Konten yang estetik, rumah yang selalu rapi tanpa mainan berceceran, dan baju yang selalu senada adalah bagian dari profesionalitas kerja mereka.
Sama seperti kita yang nggak mungkin pakai daster bolong atau rambut acak-acakan saat rapat penting di kantor, mereka pun hanya menampilkan sisi terbaik untuk konsumsi publik. Sadari bahwa di balik video transisi 15 detik yang terlihat effortless itu, ada proses syuting berjam-jam, tim kreatif yang mengarahkan gaya, editor video, hingga asisten rumah tangga yang sigap membereskan kekacauan di luar jangkauan kamera. Jadi, jangan bandingkan “gudang” kita yang berantakan dengan “etalase” mereka yang sudah dipoles.
Tahu nggak Bunda, comparison culture paling ganas menyerang saat pertahanan mental kita sedang lemah, alias di malam hari saat kita sudah lelah lahir batin. Menatap layar HP sebelum tidur itu bahaya banget karena otak kita dalam kondisi low battery dan gampang menyerap energi negatif.
Cobalah buat kesepakatan dengan diri sendiri (dan kalau bisa dengan Ayah juga) untuk menaruh HP di luar jangkauan satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu emas ini untuk hal-hal yang lebih rileks: ngobrol santai tanpa gangguan notifikasi, baca buku, atau sekadar melakukan rutinitas skincare dengan tenang. Tidur pun jadi lebih berkualitas tanpa beban pikiran atau bayang-bayang hidup orang lain yang seolah lebih indah.
Bunda butuh support system yang membumi. Alih-alih hanya mengikuti akun yang hidupnya terlihat tanpa celah, carilah komunitas atau akun ibu-ibu yang berani menampilkan sisi manusiawi dari pengasuhan.
Cari mereka yang nggak malu cerita kalau hari ini mereka juga menangis karena lelah, yang jujur kalau anak mereka juga pernah GTM parah, atau yang berani memotret sudut rumah yang kayak “kapal pecah”. Melihat realita yang sama dengan apa yang kita alami akan memberikan efek healing luar biasa. Bunda akan merasa, “Oh, ternyata bukan cuma aku ya yang begini,” dan perasaan “I’m not alone” itu adalah obat paling manjur untuk kesehatan mental.
Senjata paling ampuh melawan rasa iri adalah rasa syukur. Alih-alih fokus pada apa yang tidak Bunda miliki (seperti yang terlihat di HP), coba tuliskan 3 hal kecil yang Bunda syukuri setiap harinya. Nggak perlu yang muluk-muluk, Bunda!
Misalnya: “Terima kasih hari ini si kecil sudah bisa panggil ‘Bunda’ dengan jelas,” atau “Bersyukur sore ini bisa minum teh hangat sambil melihat anak-anak main dengan rukun.” Fokus pada kemenangan-kemenangan kecil di dunia nyata akan membuat standar “sempurna” yang ada di layar HP jadi terasa hambar dan tidak relevan lagi. Saat hati penuh dengan syukur, nggak akan ada ruang lagi untuk merasa kurang hanya karena postingan orang lain.
Bunda, anak-anak Bunda tidak butuh ibu yang sempurna seperti di Instagram. Mereka butuh Bunda yang bahagia, yang hadir secara utuh saat mereka bercerita, dan yang bisa memeluk mereka dengan hangat meski rumah sedang berantakan.
Coba deh, sesekali taruh HP-nya, lalu lihat ke arah si kecil. Bagi mereka, Bunda adalah pahlawan hebat. Mereka nggak peduli apakah Bunda pakai daster yang sudah bolong atau baju branded. Mereka nggak peduli apakah masakan Bunda hari ini bentuknya estetik atau tidak. Yang mereka tahu, Bunda selalu ada untuk mereka. Itu sudah lebih dari cukup.
Keluar dari jebakan comparison culture memang nggak bisa instan, tapi sangat mungkin dilakukan. Mulailah dengan menerima bahwa hidup kita punya ritmenya sendiri. Kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak likes yang kita dapatkan atau seberapa mirip hidup kita dengan para influencer.
Mari kita rayakan setiap kemenangan kecil di rumah. Bisa mandi dengan tenang selama 10 menit? Itu kemenangan! Anak mau makan sayur meski cuma sedikit? Itu prestasi! Rumah berantakan tapi anak-anak tertawa riang? Itu tandanya ada kehidupan dan cinta di dalamnya.
Jangan biarkan layar kecil di tangan Bunda mencuri kebahagiaan besar yang ada di depan mata. Bunda itu hebat, Bunda itu kuat, dan Bunda melakukan pekerjaan yang luar biasa setiap harinya. You are enough, Bunda!
Bunda mau tips menarik lainnya seputar dunia parenting, resep camilan sehat, atau info seru seputar keluarga? Yuk, jangan sampai ketinggalan informasi terbaru dan keseruan lainnya dengan follow Instagram @Unifam.id. Di sana, kita bisa saling berbagi inspirasi tanpa perlu merasa tertekan!
Oh iya, untuk stok camilan favorit keluarga di rumah yang sudah terjamin kualitas dan rasanya, pastikan Bunda hanya membelinya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia. Belanja jadi lebih aman, nyaman, dan pastinya banyak promo menarik buat Bunda. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, Bunda!




