Post pada 11 Mar 2026
Bulan Ramadan akhirnya tiba! Bagi orang dewasa, ini adalah bulan penuh rahmat dan ampunan yang selalu dinanti-nanti. Namun, bagi Bunda yang baru pertama kali atau sedang gencar-gencarnya melatih Si Kecil berpuasa, bulan ini bisa jadi merupakan “ujian parenting” yang sesungguhnya. Drama bangun sahur yang diselingi rengekan, tangisan di siang hari karena haus, hingga Si Kecil yang tiba-tiba lemas tak berdaya di sore hari pasti sudah menjadi pemandangan sehari-hari, bukan?
Melihat Si Kecil lemas dan terus-terusan bertanya, “Bun, azan magribnya masih lama, ya?” tentu membuat hati kita kadang merasa kasihan, gemas, sekaligus bingung. Di satu sisi, Bunda ingin menanamkan kewajiban agama sejak dini. Namun di sisi lain, rasanya tidak tega melihat mereka menahan lapar dan haus sedemikian rupa. Sayangnya, kalau kita hanya menyuruh mereka menahan lapar, puasa hanya akan terasa seperti hukuman bagi mereka. Padahal, ada nilai yang jauh lebih indah di balik ibadah puasa, yaitu empati dan rasa syukur.
Lalu, bagaimana cara mengajarkan makna puasa pada anak agar mereka tidak sekadar merasa disiksa oleh rasa lapar? Jawabannya ada pada metode yang sangat dekat dengan dunia anak: Dongeng. Yuk, kita bahas tuntas cara seru dan menyentuh hati untuk mengenalkan esensi Ramadan pada Si Kecil!

Sebelum kita masuk ke solusi, mari kita validasi dulu perasaan Bunda. Mengajari anak berpuasa itu memang sama sekali tidak mudah, Bun! Di usia pertumbuhan, wajar jika anak memiliki metabolisme yang cepat sehingga mereka mudah merasa lapar dan haus. Ketika asupan makanan dan minuman dihentikan selama belasan jam, reaksi alami tubuh mereka adalah lemas, mudah marah (hangry), dan rewel.
Tantangannya bukan hanya pada fisik Si Kecil, tapi juga mental Bunda. Saat Bunda sendiri sedang berpuasa dan menahan lelah karena harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur, Bunda juga harus menghadapi rengekan Si Kecil sepanjang hari. Ujian parenting di bulan Ramadan ini memang luar biasa. Namun, di sinilah letak seninya, Bun. Momen Si Kecil rewel justru adalah kesempatan emas bagi Bunda untuk masuk dan memberikan pemahaman baru tentang kehidupan.
Kalau kita hanya bilang, “Ayo puasa, kalau nggak puasa nanti dimarahi Allah,” atau “Tahan ya, kalau puasa kan nggak boleh makan minum,” Si Kecil hanya akan menangkap bahwa puasa adalah larangan dan pembatasan. Mereka tidak mengerti kenapa mereka harus melakukan itu.
Sebagai orang tua, tugas kita adalah menjadi jembatan pemahaman bagi mereka. Cara mengajarkan makna puasa pada anak yang paling efektif adalah dengan memutar sudut pandang dari “menahan sesuatu” menjadi “merasakan sesuatu”.
Berikut adalah beberapa makna mendalam dari puasa yang bisa Bunda kenalkan pada Si Kecil:

Anak-anak, terutama di usia balita hingga sekolah dasar, belum bisa mencerna konsep abstrak seperti ‘empati’ atau ‘syukur’ jika hanya dijelaskan lewat ceramah atau nasihat panjang lebar. Otak mereka bekerja melalui imajinasi dan cerita. Oleh karena itu, mendongeng adalah senjata rahasia Bunda.
Ketika Si Kecil mulai rewel dan lemas di siang bolong, daripada memarahinya atau memintanya tidur paksa, cobalah peluk dia dan bacakan atau ceritakan sebuah dongeng. Berikut adalah langkah-langkah asyiknya:
Anak-anak sangat mudah relate dengan karakter hewan yang lucu atau anak kecil seusia mereka. Bunda bisa mengarang cerita tentang “Keluarga Beruang yang Belajar Berpuasa” atau “Kisah Andi Sang Pahlawan Sabar”. Saat menceritakan, gunakan intonasi suara yang berubah-ubah agar Si Kecil tertarik dan lupa sejenak dengan rasa laparnya.
Misalnya, ceritakan tentang seekor Semut kecil yang sedang berpuasa dan merasa sangat lapar. Di tengah jalan, ia melihat seekor Kupu-kupu dengan sayap patah yang sudah berhari-hari tidak bisa mencari makan. Semut pun sadar, “Wah, aku baru lapar dari pagi sampai sore sudah lemas, bagaimana dengan Kupu-kupu yang lapar berhari-hari ya?”. Cerita sederhana ini akan langsung “klik” di kepala Si Kecil tentang apa itu rasa empati.
Di akhir cerita, selalu buat penutup yang bahagia saat waktu berbuka tiba. Ceritakan bagaimana tokoh utama merasa sangat bersyukur bisa minum air yang segar. Tekankan bahwa air tersebut menjadi terasa sangat enak karena ia telah bersabar seharian. Ini akan menumbuhkan antisipasi positif dalam diri Si Kecil menjelang waktu magrib.
Jangan hanya bercerita satu arah, Bun. Libatkan Si Kecil dengan melontarkan pertanyaan ringan. “Kalau Adik jadi Semut tadi, apa yang Adik rasakan ya?”, atau “Menurut Adik, Kupu-kupu seneng nggak ya kalau nanti diajak buka puasa bareng?”. Diskusi ini akan merangsang daya pikir kritis dan kecerdasan emosional mereka.

Selain menggunakan dongeng sebagai pondasi untuk menanamkan makna, Bunda juga perlu melakukan trik-trik fisik dan psikologis agar Si Kecil kuat menjalani proses belajar puasanya. Berikut adalah beberapa tipsnya:
Jangan biarkan Si Kecil hanya makan sahur dengan lauk instan apalagi sekadar minum teh manis. Berikan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks (seperti nasi merah atau gandum), protein tinggi (telur, daging, ayam), dan serat dari sayur atau buah. Makanan bergizi ini akan dicerna lebih lambat sehingga energi Si Kecil bertahan lebih lama dan ia tidak mudah lemas.
Jangan paksa anak yang baru belajar untuk langsung berpuasa penuh hingga magrib. Mulailah secara bertahap. Biarkan ia berpuasa hingga jam 10 pagi, lalu tingkatkan hingga zuhur (puasa setengah hari). Jika ia kuat, minggu depannya bisa dilanjut hingga asar, dan seterusnya. Hargai prosesnya, Bun, bukan hanya hasil akhirnya.
Saat jam-jam rawan (biasanya setelah asar) di mana rasa lemas mulai menyerang, ajak Si Kecil melakukan aktivitas ringan yang tidak menguras tenaga tapi menyenangkan. Misalnya menyusun puzzle, mewarnai, membaca buku cerita, atau melibatkan mereka menyiapkan menu takjil di dapur. Jangan biarkan mereka hanya berbaring menatap jam dinding.
Banyak orang tua menjanjikan uang dalam jumlah besar jika anak berhasil puasa full. Sesekali memberi reward memang boleh sebagai penyemangat, tetapi jangan sampai anak puasa hanya demi uang. Lebih baik berikan reward berupa pujian, pelukan hangat, atau memasakkan makanan kesukaannya saat berbuka puasa.
Ketika suara azan magrib akhirnya berkumandang, ini adalah garis finish yang ditunggu-tunggu Si Kecil. Jangan lewatkan momen ini begitu saja, Bun. Sebelum Si Kecil buru-buru meneguk es sirupnya, ajak ia duduk tenang sejenak.
Pegang tangannya, dan ajak ia berdoa bersama. Sampaikan kepadanya, “Alhamdulillah ya Dik, hari ini Adik pintar dan sabar banget puasanya. Sekarang Adik bisa minum air yang seger ini. Bayangin deh di luar sana banyak teman-teman yang belum tentu bisa minum enak kayak gini. Kita harus banyak-banyak bersyukur sama Allah, ya.”
Kalimat sederhana di meja makan saat berbuka ini akan menancap kuat di alam bawah sadar Si Kecil. Ia akan mengasosiasikan puasa dengan pencapaian yang positif, rasa syukur, dan kebersamaan keluarga yang hangat.
Bunda, mengajarkan puasa pada anak sejatinya adalah maraton, bukan lari sprint. Wajar jika hari ini Si Kecil berhasil puasa sampai zuhur, tapi besoknya jam 10 pagi sudah menangis minta susu. Jangan langsung merasa gagal atau memarahinya. Peluk ia, hargai usahanya sekecil apa pun, dan coba lagi esok hari.
Menerapkan cara mengajarkan makna puasa pada anak lewat dongeng dan pendekatan empati akan membantu membentuk karakter Si Kecil menjadi pribadi yang peduli, sabar, dan pandai bersyukur. Puasa bukan hanya soal perut yang kosong, melainkan tentang hati yang diisi dengan kebaikan. Teruslah bercerita, teruslah mendampingi dengan sabar, dan jadikan Ramadan tahun ini sebagai momen bonding yang tak terlupakan antara Bunda dan Si Kecil. Semangat terus puasanya ya, Bun!
Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di Instagram @Unifam.id. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia biar lebih aman dan pasti asli!




