Post pada 12 Feb 2026
Bunda pernah merasa capek padahal seharian rasanya “nggak ngapa-ngapain”? Atau tiba-tiba emosi naik hanya karena hal kecil, lalu malamnya malah overthinking sebelum tidur? Kalau iya, kemungkinan besar Bunda sedang mengalami mental load. Beban pikiran yang tidak terlihat, tapi beratnya terasa setiap hari.
Di artikel ini, kita akan ngobrol santai tentang mindful motherhood, bagaimana mental load bekerja di kehidupan ibu muda, dan bagaimana teknik grounding bisa membantu Bunda berhenti sejenak dari kecemasan akan daftar tugas besok, lalu kembali fokus ke apa yang bisa dikerjakan hari ini.

Pernah merasa lelah luar biasa padahal “cuma” di rumah? Bisa jadi itu bukan lelah fisik, melainkan mental load. Ini adalah semua pekerjaan tak kasat mata yang terus berjalan di kepala Bunda. Bukan cuma soal mengerjakan tugasnya, tapi tentang mengingat, merencanakan, dan mengantisipasi, karena saat stres melanda, ibu memang butuh persiapan mental seperti yang dibahas dalam artikel 5 P3K mental yang perlu Bunda persiapkan ketika stres melanda sebelumnya.
Ini adalah semua pekerjaan tak kasat mata yang terus berjalan di kepala Bunda. Bukan cuma soal mengerjakan tugasnya, tapi tentang mengingat, merencanakan, dan mengantisipasi.
Contoh nyata “tab” yang selalu terbuka di otak Bunda:
Masalahnya, mental load ini jarang dianggap sebagai “pekerjaan” karena hasilnya tidak terlihat langsung. Padahal, otak Bunda hampir tidak pernah benar-benar istirahat (bahkan saat sedang tidur!).
Inilah alasan kenapa Bunda sering merasa:
Ingat, Bun, Mengelola rumah tangga itu kerja tim. Mental load yang dipikul sendirian adalah beban yang terlalu berat untuk satu kepala.
Banyak yang salah sangka, mengira Mindful Motherhood itu berarti menjadi “Ibu Peri” yang ajaib. Padahal, menjadi sadar (mindful) bukan tentang kesempurnaan.
Mindful Motherhood BUKAN Berarti:
Sebaliknya, Mindful Motherhood adalah tentang hadir sepenuhnya di detik ini, menyadari apa yang sedang terjadi, tanpa menghakimi diri sendiri.
Mari kita mulai perlahan dengan mengubah tuntutan menjadi penerimaan. Alih-alih membebani diri dengan pikiran, “Aku harus menyelesaikan semua cucian, masakan, dan pekerjaan rumah hari ini juga,” cobalah untuk lebih lembut pada diri sendiri.
Fokuslah pada pertanyaan yang lebih membumi: “Apa satu hal kecil yang realistis bisa aku tuntaskan hari ini tanpa harus mengorbankan kewarasanku?” Dengan menurunkan standar ekspektasi yang menyesakkan, Bunda memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas dan menyadari bahwa berprogres sedikit demi sedikit jauh lebih baik daripada memaksakan segalanya namun berakhir dengan kelelahan hebat.
Saat mental load terasa penuh dan emosi mulai meluap, teknik grounding adalah rem daruratnya. Ini adalah cara untuk “membumi” kembali, membawa pikiran kita yang melayang jauh ke masa depan atau masa lalu kembali ke saat ini.
Teknik ini sering dipakai untuk membantu mengatasi overthinking dan kecemasan karena sangat praktis dan bisa dilakukan kapan saja.

Saat kepala terasa penuh dan pikiran lari ke mana-mana, Bunda tidak perlu langsung “membereskan semuanya”. Yang dibutuhkan justru berhenti sejenak dan kembali ke hari ini. Lima teknik grounding ini bisa Bunda lakukan kapan saja, bahkan di sela aktivitas rumah.
Saat pikiran mulai overthinking atau emosi terasa meluap, gunakan teknik Grounding ini untuk menarik diri Bunda kembali ke saat ini. Caranya sederhana, cukup temukan:
Teknik ini adalah cara tercepat untuk memaksa otak berhenti mencemaskan masa depan dan mengajak jiwa Bunda kembali memijak apa yang nyata sekarang.
Pernah sadar tidak, Bun? Saat mental load sedang menumpuk, napas kita cenderung menjadi pendek, cepat, dan dangkal. Ini adalah sinyal stres dari tubuh. Untuk meredakannya, coba berikan jeda sejenak dengan Napas Sadar:
Napas adalah pengingat paling setia bahwa meski dunia di sekitar terasa riuh, Bunda tetap aman dan berdaya di momen ini.
Teknik ini adalah “penyelamat” saat Bunda merasa gelisah luar biasa, tapi keadaan tidak memungkinkan untuk berhenti dari aktivitas. Saat pikiran mulai melayang ke mana-mana, kembalilah ke tubuh Bunda sendiri:
Kuncinya terletak pada fokus sepenuhnya pada sensasi fisiknya. Saat Bunda mulai bisa merasakan tubuh kembali, secara otomatis pikiran yang kalut akan perlahan ikut melandai dan tenang.
Siapa bilang mindfulness harus selalu duduk diam dengan mata tertutup? Bunda tetap bisa “pulang” ke diri sendiri sambil menyelesaikan tugas rumah. Caranya, pilih satu aktivitas dan lakukan dengan perhatian penuh:
Aktivitas sederhana yang dilakukan dengan sadar bukan lagi sekadar “tugas”, melainkan jeda mental yang sangat menyembuhkan.
Saat pikiran mulai riuh dengan urusan besok, lusa, bahkan bulan depan, segera tarik rem darurat dengan satu pertanyaan sederhana untuk diri sendiri:
“Apa satu hal kecil yang paling mungkin aku tuntaskan hari ini?”
Ingat, Bun, bukan semua hal ya. Bukan harus sempurna. Cukup satu hal saja.
Dengan mengajukan pertanyaan ini, Bunda sedang mengambil alih kendali. Bunda memilih untuk berhenti terjebak dalam daftar panjang yang melelahkan dan mulai berfokus pada apa yang benar-benar ada di depan mata.
Salah satu sumber stres terbesar ibu adalah daftar tugas yang terasa tidak ada ujungnya. Setiap selesai satu hal, muncul hal lain. Pikiran pun sibuk melompat ke besok, lusa, dan seterusnya.
Padahal, yang sering kita butuhkan bukan menambah tenaga, tapi mengubah cara memandang hari. Bukan lagi bertanya, “Apa saja yang harus selesai?”, melainkan, “Apa satu atau dua hal yang paling penting hari ini?”
Sisanya boleh menunggu.
Hidup bukan lomba menyelesaikan semua tugas. Tubuh dan pikiran Bunda juga punya batas.
Mulailah dari latihan kecil setiap hari. Beri jeda satu menit sebelum memulai aktivitas. Tarik napas sebelum bereaksi. Lalu tanyakan ke diri sendiri dengan jujur, “Aku sedang butuh apa sekarang?”
Sedikit kesadaran yang dilakukan konsisten jauh lebih menenangkan daripada perubahan besar yang justru melelahkan.
Mental load itu nyata. Bukan karena Bunda kurang kuat, tapi karena peran ibu memang kompleks dan sering dijalani tanpa jeda. Melalui mindful motherhood dan teknik grounding, Bunda belajar satu hal penting: hidup tidak perlu dijalani sekaligus. Cukup satu hari, satu langkah, satu napas.
Fokus pada hari ini. Fokus pada yang bisa dilakukan. Dan izinkan diri untuk berhenti sejenak tanpa rasa bersalah.
Kalau Bunda merasa artikel ini relevan, jangan lupa follow Instagram @Unifam.id untuk insight seputar keseharian ibu, mental wellbeing, dan kehidupan keluarga. Dan pastikan Bunda membeli produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia, agar kualitas dan keasliannya terjamin.
Pelan-pelan saja, Bunda. Hari ini cukup untuk hari ini.




