Kegiatan Perusahaan

Belajar Hidup ala Stoisisme Bebas Toxic Langsung dari Penulis Buku Filosofi Teras

Post pada 11 Jul 2023

Bagi yang dekat dengan dunia filsafat, mungkin sangat familiar dengan istilah stoisisme. Meski istilah ini terkesan berat, tapi ternyata asyik untuk dipelajari. Apalagi dipaparkan secara langsung oleh Henry Manampiring, penulis buku laris berjudul Filosofi Teras.

Kesempatan inilah yang didapatkan karyawan UNIFAM untuk mendapatkan penjelasan lebih jauh seputar Filosofi Teras dari penulisnya langsung. Filosofi teras mengajarkan untuk hidup bebas dari emosi negatif, hidup mengasah kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan menahan diri. Kebahagiaan bukan menjadi tujuan utama dalam filosofi ini. Stoisisme lebih memfokuskan pada pengendalian emosi negatif dan mengasah kebajikan.

Henry memaparkan filsafat Stoa berfokus pada cara manusia dapat mengontrol emosi negatif dengan mensyukuri segala kenikmatan hingga kini. Proses bersyukur diawali dengan menyadari segala situasi yang dapat dikendalikan dan diupayakan agar berjalan dengan baik, di sisi lain juga terdapat kondisi di luar kendali manusia yang mempengaruhi upaya tersebut. Dengan kesadaran itu, manusia dapat berusaha atas apa pun yang diiringi dengan keikhlasan dan rasa syukur atas hasil yang didapat.

Berlandaskan Stoisisme, Henry lantas menyebut sejumlah hal yang dapat dikendalikan dan sebaliknya. “Apa yang ada di bawah kendali kita? Ada opini kita sendiri, pikiran kita, keinginan kita, apapun tindakan kita sendiri. Sedangkan hal-hal yang di luar kendali antara lain sikap orang lain, reputasi, dan kesehatan,” katanya dalam sesi UNIFAM Talks with CEO UNIFAM, awal Juli lalu.

UNIFAM Talks with CEO UNIFAM kali ini bertema Hidup Stoic Biar Gak Toxic yang secara khusus membahas pengelolaan emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh namun tetap tenang dalam kecemasan. Inilah alasan mengapa Henry dihadirkan agar karyawan UNIFAM dapat secara langsung memahami pandangan dari filsafat stoikisme, sebagai penjaga nalar, dan emosi yang praktis dalam keseharian hidup ini.

Di awal-awal pembahasan, Henry menggarisbawahi perlunya memilah mana yang dapat dikendalikan dan mana yang tak dapat dikendalikan. ”Fokus pada usaha dan pikiran kita ada dalam kendali kita, sedangkan hasil sudah diluar kendali kita. Akhinya jika kita gagal tidak akan terlalu sedih dan sukses tidak jadi sombong,” paparnya.

Lalu dalam urusan mengelola emosi, filsuf Stoa mengajarkan agar manusia dapat berjalan selaras dengan alam. Henry mengungkapkan manusia perlu memaksimalkan penggunaan otaknya agar dapat selaras dengan alam.

Alhasil, manusia dapat membedakan pikiran dan tingkah laku secara logis. Selain itu, perlu juga menyadari sejak awal di mana hidup harmonis antar sesamanya adalah rumus yang wajib diaplikasikan.

Kodrat manusia adalah bersosialisasi dan bekerja sama. Pengelolaan emosi dapat dilakukan dengan berpikir dan bertindak baik antarsesama manusia. Bisa pula mulai menghindari konflik antar sesama. “Buat orang Stoa, enggak ada peristiwa yang mengagetkan,” tukasnya.

Di tempat yang sama, CEO Unifam Steven E Wijaya menambahkan bila nilai-nilai UNIFAM ada yang terkait dengan Stoisisme. Nilai yang dimaksud adalah value respect. ”Bagaimana membangun hubungan dan kerjasama dengan orang lain. Dan respect ini sebagai dasar berhubungan dengan orang lain,” katanya.

Berita Terpopuler


Bagikan Artikel