Kata Pakar

Bijak Hadapi Anak Temperamental, Identifikasi Dulu Baru Tentukan Sikap

Post pada 31 Okt 2022

Artikel ini sudah diulas Harfiah Putu, M.Psi-Psikolog dari Kalbu

Menghadapi anak yang temperamental memang perlu kesabaran ekstra tinggi. Tapi ketika sejak awal kita punya konsep anak menjadi temperamental sesungguhnya bukan karena bandel atau nakal, maka bunda pasti bisa mengontrol emosi.

Sadarilah sejak awal, meletupnya sifat temperamental anak itu muncul karena dia belum menemukan cara yang tepat mengekspresikan masalah yang menganggunya. Dengan begitu, bunda akan lebih fokus untuk mengindentifikasi perasaan anak dan kebutuhannya yang tak terpenuhi ketimbang bereaksi negatif kepadanya.

Itulah mengapa, langkah pertama saat mengadapi anak yang muncul sifat temperamentalnya adalah dengan mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi dan mencari pangkal kemarahan buah hati. Hindari sikap menghardik. Bila sudah menemukan pangkal masalahnya, maka bunda akan lebih mudah menentukan sikap yang tepat.

Secara umum, ada beberapa pangkal masalah  yang membuat anak menjadi temperamental.

1. Bunda tak menepati janji

Anak selalu mengingat janji yang bunda ucapkan. Contohnya, janji pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Ketika sulit menepatinya, kadang bunda mencari jalan pintas dengan membohongi si kecil agar tidak merengek. Justru ini kurang bijak karena bunda tidak mengajari anak mengelola emosi. Sebaliknya, bunda memberi kesan ke anak bila ‚Äėberbohong sedikit itu tidak masalah.‚ÄĚ Anak juga tidak akan percaya lagi pada kata-kata bunda dan semakin sulit dibujuk kemudian hari.

2. Cemburu terhadap aktivitas bunda

Bisa juga lho anak temperamen karena cemburu terhadap aktivitas bunda. Misalnya, bisa jadi bunda secara fisik berdampingan dengan anak, tapi tidak dengan perasaan dan pikiran bunda. Misalnya mendampingi anak main, tetapi bunda sibuk ‚Äúmain‚ÄĚ handphone atau mengerjakan hal lain. Lantaran anak belum tahu cara menyalurkan emosi, maka pilihannya dengan marah-marah, gelisah, dan lain sebagainya.

3. Dipaksa melakukan yang tak ingin anak lakukan

Bila anak dipaksa melakukan sesuatu yang  tak disukai, bisa jadi ini juga sumber anak jadi temperamental. Pasang wajah cemberut, tidak ikhlas, atau menghindar, mungkin itu respons negatif yang ditunjukkan anak. Alangkah baiknya bila bunda mendahului dengan negosiasi sehingga anak merasa dihargai pendapatnya.

4. Tidak sesuai harapan anak

Menangis, teriak-teriak, sampai memukul adalah cara anak meluapkan emosinya. Itu adalah pilihan yang ditunjukkan anak lantaran belum mampu mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai harapannya.

Bunda sebaiknya mencari tahu dulu dengan bertanya dengan lembut. Misalnya,‚ÄĚkakak lagi sebal ya?‚ÄĚ Bila perlu berikan sentuhan fisik sebagai¬†love language¬†ke anak dengan menyentuh tangan atau memeluk tubuhnya.

Harus diakui ya, bunda memerlukan latihan terus-menerus dalam menghadapi anak yang temperamental. Penting banget agar bunda stay calm and stay cool alias tetap dengan kepala dan hati yang dingin saat merespons anak yang sedang temperamental.

Jangan menyerah pada emosi bunda. Tunjukan ke buah hati bila tidak semua keinginan dan harapannya bisa didapatkan dengan cara kemarahan. Ajarkan dan biasakan anak mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, bukan dengan berteriak atau memukul.

Biasakanlah untuk berbicara dengan kalimat positif. Hindari makian, umpatan, atau kalimat yang merendahkan anak saat sedang temparamental. Oh ya satu lagi, tahan diri untuk menasihati anak saat emosinya sedang tinggi. Toh saat itu dia akan menolak semua nasihat bunda. Ajaklah bicara dan diskusi nanti saat emosinya sudah reda. Tetap semangat bunda!

Jangan lupa untuk mengunjungi Instagram PINO Indonesia, Tokopedia & Shopee UNIFAM Official Store untuk mendapatkan promo terbaik dari produk-produk UNIFAM.

 

Berita Terpopuler


Bagikan Artikel