Post pada 17 Jun 2026
Menjadi seorang ibu adalah salah satu perjalanan paling menakjubkan, penuh warna, sekaligus menantang dalam hidup seorang wanita. Di satu sisi, ada rasa hangat yang tak tertandingi saat melihat si Kecil tersenyum, mendengar tawa renyahnya, atau merasakan pelukan mungilnya di malam hari. Namun, di sisi lain, mari kita jujur satu sama lain ya, Bun. Ada hari-hari di mana tumpukan cucian, tangisan yang tak kunjung reda, serta rasa lelah yang menumpuk membuat tingkat kesabaran kita berada di titik paling rendah bahkan kadang membuat ibu stress.
Pernahkah Bunda berada di situasi seperti ini? Si Kecil tidak sengaja menumpahkan susu di atas karpet bersih, atau menolak memakai baju saat hendak pergi. Reaksi Bunda yang biasanya tenang tiba-tiba berubah menjadi ledakan amarah yang begitu hebat. Detak jantung berdegup kencang, suara meninggi, dan emosi rasanya tak terbendung lagi.
Setelah amarah itu reda dan si Kecil menatap Bunda dengan mata berkaca-kaca karena ketakutan, rasa bersalah yang luar biasa pun datang menyerang. Bunda mungkin menangis di pojok kamar sambil merutuki diri sendiri, “Kenapa ya aku semarah itu? Padahal masalahnya sepele banget. Aku ini ibu yang gagal ya?”
Bunda, tolong tarik nafas dalam-dalam dan embuskan perlahan. Peluk diri Bunda erat-erat. Ketahuilah bahwa Bunda bukan ibu yang buruk. Ledakan emosi yang sulit dikontrol, rasa cemas yang berlebihan, atau perasaan bersalah yang terus menghantui sering kali bukan karena Bunda tidak menyayangi si Kecil. Sangat mungkin, itu adalah suara teriakan dari masa lalu Bunda sendiri, sebuah bagian dari diri kita yang biasa dikenal dengan sebutan inner child.
Mari kita ngobrol santai dari hati ke hati, Bun. Kita akan membahas apa itu inner child, mengapa ia bisa memicu amarah kita saat mengasuh anak, serta bagaimana cara berdamai dengan inner child agar kita bisa memutus rantai luka masa lalu dan menjadi ibu yang jauh lebih tenang serta bahagia.
Sebelum melangkah lebih jauh, yuk kita kenalan dulu dengan apa yang dimaksud dengan inner child. Sederhananya, inner child adalah sekumpulan ingatan masa kecil, emosi (baik bahagia maupun sedih), serta pengalaman masa lalu yang tetap hidup dan terekam kuat di dalam diri kita hingga dewasa.
Menurut para pakar psikologi, struktur emosional kita saat dewasa sangat dipengaruhi oleh bagaimana kebutuhan emosional kita dipenuhi sewaktu kecil. Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kehangatan, validasi, dan rasa aman, inner child-nya akan tumbuh menjadi sosok yang sehat dan penuh percaya diri.
Namun, tidak semua dari kita memiliki masa kecil yang sempurna, bukan? Banyak dari kita yang tumbuh dengan membawa “luka”. Luka ini bisa berupa:
Ketika kita tumbuh dewasa, luka-luka emosional ini tidak serta-merta hilang. Mereka hanya “tertidur” di alam bawah sadar kita. Nah, momen ketika kita menjadi orang tua dan mulai mengasuh anak adalah pemicu (trigger) terbesar yang bisa membangunkan luka lama tersebut dari tidurnya.
Ketika si Kecil tidak mau mendengarkan kata-kata Bunda atau menolak makan, inner child Bunda yang dulu sering diabaikan atau dituntut untuk selalu patuh tanpa syarat langsung merasa terancam. Pikiran bawah sadar Bunda menerjemahkan sikap si Kecil sebagai penolakan terhadap harga diri Bunda: “Aku tidak dihargai, aku tidak dianggap penting!” Reaksi pertahanan diri yang keluar akhirnya adalah amarah yang meledak-ledak atau bentakan, padahal si Kecil mungkin hanya sedang lelah atau belum mengerti instruksi Bunda.
Jika kita tidak menyembuhkan luka-luka masa kecil ini, tanpa sadar kita akan melimpahkan atau mewariskan trauma yang sama kepada anak-anak kita. Kita tentu tidak ingin si Kecil kelak tumbuh dengan membawa luka emosional yang sama yang pernah kita rasakan, kan? Itulah mengapa memutus rantai luka (generational trauma) ini menjadi tugas yang sangat mulia bagi seorang ibu.

Menyembuhkan luka masa lalu memang bukan proses yang instan. Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kelembutan, kesabaran, dan waktu yang tidak sebentar. Menghadapi inner child bukan bertujuan untuk menyalahkan orang tua kita atas apa yang terjadi di masa lalu. Sebaliknya, ini adalah bentuk tanggung jawab penuh kita sebagai orang dewasa untuk menyembuhkan diri demi kebaikan kita sendiri dan masa depan si Kecil.
Berikut adalah 5 langkah praktis cara berdamai dengan inner child yang bisa mulai Bunda terapkan hari ini:
Langkah paling awal untuk sembuh adalah menyadari dan mengakui bahwa ada “anak kecil” yang sedang terluka di dalam diri Bunda saat ini. Jangan menolak, menekan, atau mematikan perasaan negatif yang muncul ketika sedang merasa kesal atau sedih dalam mengasuh anak.
Ketika Bunda merasakan gelombang emosi yang sangat kuat saat menghadapi si Kecil, cobalah untuk mengambil jeda sejenak. Alih-alih langsung berteriak, tanyakan pada diri sendiri dengan lembut:
Misalnya, Bunda merasa sangat panik dan marah ketika si Kecil melakukan kesalahan kecil. Bisa jadi, itu dipicu oleh memori masa kecil Bunda yang selalu dihukum berat setiap kali membuat kesalahan. Dengan menyadari hubungan ini, Bunda bisa memisahkan antara memori masa lalu dan apa yang terjadi di depan mata Bunda saat ini. Katakan pada diri sendiri: “Itu adalah masa laluku, dan anakku sekarang aman membuat kesalahan. Aku tidak perlu bereaksi seperti orang tuaku dulu.”
Banyak luka masa kecil yang bertahan hingga dewasa karena saat kita kecil dulu, emosi kita tidak pernah divalidasi oleh orang dewasa di sekitar kita. Kita mungkin sering mendengar kalimat pengabaian seperti, “Masa begitu saja menangis?”, “Kamu itu cengeng sekali!”, atau “Jangan marah-marah, tidak sopan!”
Kini, setelah Bunda tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan berdaya, saatnya Bunda berperan menjadi “orang tua terbaik” untuk inner child Bunda sendiri. Berikan validasi yang dulu sangat Bunda butuhkan.
Jika Bunda merasa ingin menangis saat mengingat masa lalu, jangan ditahan, Bun.
Menangislah. Katakan pada diri sendiri kalimat-kalimat penuh penerimaan seperti:
Memberikan izin kepada diri sendiri untuk merasakan semua emosi tanpa menghakimi adalah obat penyembuh yang sangat luar biasa bagi jiwa yang lelah.
Menulis adalah salah satu terapi psikologis terbaik untuk mengurai benang kusut yang ada di dalam pikiran dan hati kita. Cobalah luangkan waktu sejenak di malam hari setelah si Kecil sudah terlelap tidur dan suasana rumah menjadi tenang. Ambil selembar kertas atau buku harian, lalu mulailah menulis surat untuk diri Bunda di masa kecil.
Bayangkan diri Bunda saat berusia 5, 7, atau 10 tahun, momen di mana Bunda merasa paling terluka atau kesepian. Tuliskan kata-kata penuh kasih sayang yang dulu sangat ingin Bunda dengar dari orang tua atau orang dewasa di sekitar Bunda:
Menulis dan membaca kembali surat ini secara berkala akan membantu mengirimkan sinyal rasa aman ke otak bawah sadar Bunda, menenangkan inner child yang gelisah, dan perlahan-lahan memulihkan luka batin tersebut.
Kapan terakhir kali Bunda melakukan sesuatu yang murni hanya untuk bersenang-senang, tanpa memikirkan cucian, setrikaan, piring kotor, atau pekerjaan kantor?
Salah satu cara paling menyenangkan untuk berdamai dengan inner child adalah dengan memberikan ruang bagi diri kita untuk menikmati hal-hal yang dulu kita sukai atau justru hal-hal yang dulu dilarang keras saat kita masih kecil. Aktivitas ini sering disebut sebagai re-parenting melalui bermain.
Ketika Bunda memberikan diri sendiri izin untuk bermain dan merasa bahagia, Bunda akan melepaskan banyak sekali hormon stres. Jiwa Bunda akan terasa lebih ringan, segar, dan siap menghadapi tantangan pengasuhan dengan hati yang lebih lapang.
Antara stimulus (ulah anak) dan respon kita (reaksi amarah/tenang) sebenarnya ada ruang yang sangat berharga. Di dalam ruang itulah letak kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih bagaimana kita akan bersikap.
Ketika si Kecil berulah dan Bunda merasakan amarah mulai merayap naik dari dada hingga ke ubun-ubun, latihlah teknik STOP ini, Bun:
Ingat ya, Bun, anak-anak adalah peniru yang ulung. Saat mereka melihat bagaimana cara Bunda mengatasi rasa frustrasi dan marah dengan tenang, secara tidak langsung Bunda sedang mengajarkan mereka cara meregulasi emosi yang sangat sehat untuk masa depan mereka kelak.
Bunda yang hebat, proses menyembuhkan luka masa lalu dan berdamai dengan inner child bukanlah sebuah perlombaan lari cepat. Ini adalah perjalanan panjang yang berliku, kadang maju beberapa langkah, lalu sesekali bisa saja mundur selangkah. Sembuh bukan berarti semua ingatan buruk masa kecil Bunda akan terhapus sepenuhnya, melainkan ingatan-ingatan tersebut tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengendalikan emosi, keputusan, dan cara Bunda mengasuh si Kecil hari ini.
Jangan pernah terlalu keras menghakimi diri sendiri saat proses belajar ini ya, Bun. Jika suatu hari Bunda tidak sengaja kehilangan kendali dan membentak si Kecil, jangan langsung mencap diri Bunda sebagai “ibu yang gagal”.
Begitu emosi Bunda mereda, turunkan ego Bunda, hampiri si Kecil, tatap matanya, lalu peluk dia erat-erat. Katakan dengan tulus: “Bunda minta maaf ya, Nak. Tadi Bunda sempat marah dan bersuara keras karena Bunda sedang lelah, bukan karena kamu anak nakal. Bunda sangat sayang padamu.”
Tindakan sederhana namun mendalam ini justru akan mengajarkan si Kecil tentang arti kerendahan hati, tanggung jawab, serta cara meminta maaf yang tulus saat melakukan kesalahan.
Bunda yang tenang lahir dari jiwa yang damai. Dengan memeluk dan menyembuhkan inner child Bunda terlebih dahulu, Bunda sedang memberikan kado terindah yang paling berharga bagi kehidupan si Kecil: yaitu sosok Bunda yang hadir utuh, penuh kasih, lapang dada, dan berhasil memutus mata rantai luka untuk generasi selanjutnya. You are doing an amazing job, Bunda!
Mengasuh anak dan menyembuhkan diri tentu akan terasa jauh lebih ringan jika kita dikelilingi oleh lingkungan yang mendukung dan penuh energi positif (support system). Oleh karena itu, yuk gabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Unifam!
Bunda bisa mendapatkan berbagai tips parenting menarik, informasi penting seputar tumbuh kembang anak, hingga cerita inspiratif dari sesama Bunda dengan mem-follow Instagram resmi kami di @Unifam.id. Di sana, kita bisa saling bertukar cerita, berbagi pelukan virtual, dan bertumbuh bersama menjadi orang tua yang lebih bahagia setiap harinya.
Oh iya, untuk menemani momen-momen manis, ceria, dan penuh tawa saat sedang melakukan aktivitas seru bersama si Kecil di rumah, pastikan stok camilan lezat, bergizi, dan berkualitas dari Unifam selalu siap sedia di meja ya, Bun!
Agar belanja Bunda terasa lebih praktis, aman, dan terjamin keaslian produknya, yuk langsung saja borong produk-produk favorit Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia. Selamat menikmati waktu berkualitas dan selamat memeluk diri dengan penuh kasih sayang, Bunda hebat!




