Post pada 05 Feb 2026
Pagi hari yang seharusnya tenang tiba-tiba berubah jadi medan perang. Si Kecil tiba-tiba menarik selimutnya erat-erat, menangis, atau bahkan mengeluh sakit perut saat jam sekolah tiba. Rasanya campur aduk ya, Bunda? Antara gemas, bingung, dan khawatir dia ketinggalan pelajaran.
Banyak dari kita yang secara refleks langsung mengeluarkan jurus “omelan” atau ancaman agar Si Kecil segera mandi. Namun, tahukah Bunda? Fenomena school refusal atau mogok sekolah biasanya bukan karena anak malas, melainkan ada emosi besar yang belum mampu mereka sampaikan. Di sinilah konsep Mindful Discipline hadir. Kita tidak bicara soal hukuman, tapi soal “kehadiran”. Kita diajak untuk tidak sekadar memaksa, tapi hadir sepenuhnya untuk menggali apa yang sebenarnya terjadi di balik tangisan itu.

Mindful discipline adalah cara mengasuh dengan kesadaran penuh. Artinya, sebelum Bunda bereaksi marah, Bunda mencoba memahami kondisi emosi diri sendiri dan Si Kecil. Dalam kasus mengatasi anak mogok sekolah, tujuannya bukan “pokoknya harus sekolah”, tapi “apa yang membuatmu merasa tidak aman untuk sekolah?”.
Beberapa poin utama dalam praktik ini adalah:

Berdasarkan referensi medis dari IDAI dan ahli parenting, anak yang mogok sekolah biasanya mengalami kecemasan tertentu. Jangan langsung dituduh manja ya, Bunda. Mari kita bedah kemungkinan alasannya:
Senjata paling ampuh mengatasi anak mogok sekolah adalah Active Listening. Ini bukan sekadar mendengar suara, tapi menangkap makna di balik kata-kata. Saat Si Kecil menolak sekolah, coba lakukan langkah-langkah ini:

Bunda, berikut adalah panduan praktis yang bisa Bunda terapkan di rumah saat menghadapi fase sulit ini:
Banyak dari kita tergoda menjanjikan mainan baru asal Si Kecil mau sekolah. Meski efektif jangka pendek, ini tidak menyelesaikan masalah utamanya, Bunda. Yang Si Kecil butuhkan adalah rasa aman.
Jika masalahnya adalah rasa bosan, Bunda bisa membantu Si Kecil menemukan sisi menarik dari sekolah. Jika masalahnya adalah ketakutan, Bunda perlu menjadi “pelabuhan” yang membuat dia merasa cukup berani untuk menghadapi dunia luar kembali.
Jika mogok sekolah berlangsung lebih dari dua minggu dan disertai gejala fisik yang parah (muntah setiap pagi, mimpi buruk, atau menarik diri dari lingkungan), jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter spesialis anak. Ingat Bunda, meminta bantuan bukan berarti Bunda gagal, tapi bukti bahwa Bunda sangat peduli pada kesejahteraan mental Si Kecil.
Mengatasi anak mogok sekolah memang butuh kesabaran seluas samudera. Dengan teknik Active Listening dan Mindful Discipline, Bunda sedang membangun fondasi kepercayaan yang kuat. Saat Si Kecil merasa didengarkan dan divalidasi, rasa takutnya akan perlahan terkikis berganti dengan keberanian. Sekolah bukan lagi sebuah paksaan, melainkan tempat petualangan yang ia hadapi dengan rasa aman karena ia tahu Bunda selalu ada untuk mendukungnya.
Semangat terus ya, Bunda! Bunda adalah sosok hebat yang paling mengerti kebutuhan Si Kecil.
Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di Instagram @Unifam.id. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia biar lebih aman dan pasti asli!




