Artikel

Anak sudah Kenal YouTube, Kenapa Tidak Dorong Anak Produksi Konten

Post pada 26 Sep 2023

Hasil riset Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021 menunjukkan fakta 87 persen anak di Indonesia sudah mengenal sosial media sebelum berusia 13 tahun. Dari riset itu, platform media sosial berupa YouTube paling banyak yang diakses anak-anak.

Respons bunda terkait fakta-fakta ini pasti berbeda-beda. Ada yang biasa saja, tapi ada  pula yang miris. Hal ini wajar karena bunda sulit mengontrol dampak dari konten dan channel YouTube apa saja yang diakses si kecil.

Tapi terpaparnya anak terhadap sosial media tidak selamanya berdampak negatif. Justru sisi positif dari riset itu menunjukkan interaksi anak sejak dini terhadap sosial media memancing kemampuan mereka memproduksi karya sejak dini. Mereka tidak sebatas mengkonsumsi konten sosial media saja tapi juga makin mahir memproduksi konten.

BACA: Anak Suka Banget Olahraga? Jangan Abai Penuhi Kebutuhan Gizi

Sisi inilah yang sebaiknya bunda cermati. Daripada sibuk mencari cara melarang anak untuk bersosial media, lebih baik merangsang mereka untuk memproduksi konten. Misalnya konten untuk YouTube Kids yang memang didedikasikan untuk anak-anak. Tentu saja bunda tetap menyeleksi sekaligus mengarahkan jenis konten yang sesuai dengan usia si kecil.

Ada sejumlah hal yang perlu bunda perhatikan terlebih dulu sebelum membuat channel dan memproduksi konten YouTube bersama anak. Pertama yang paling dasar adalah tujuannya. Kedua, jenis konten yang ingin diproduksi. Ketiga, konten-konten apa saja yang digemari si kecil. Terakhir, konten apa saja yang tidak disukai si kecil.

Biar memudahkan bunda, berikut sejumlah tips yang dapat dilakukan agar proses produksi konten bersama anak menjadi menyenangkan dan aman. 

  1. Bikin perencanaan

Sebaiknya bunda ajak anak membuat perencanaan konten yang akan diproduksi. Rangsang anak untuk menggali ide atau gagasan. Langkah ini sama saja melatih anak untuk berpikir kritis sekaligus bertanggung jawab terhadap ide-ide yang dilontarkan. Mereka juga akan memikirkan cara merealisasikan ide-ide itu menjadi nyata.

Misalnya mengulas Permen Susu Milkita. Dorong si kecil untuk menceritakan pengalaman mengkonsumsi Permen Susu Milkita yang merupakan permen Susu pertama dengan perpaduan tekstur crunchy (renyah) di luar dan chewy (kenyal) di dalam dan dibuat dengan Susu Asli dari New Zealand.

  1. Tentukan waktu dan situasi

 Namanya saja kerja bareng, bunda bisa menawarkan waktu yang tepat untuk mengerjakan bersama si kecil. Paling afdol adalah di akhir pekan. Memproduksi konten YouTube Kids bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi akhir pekan bersama si kecil.

BACA: Tak Perlu Ragu Ajak Anak ke Pesta Pernikahan, Perhatikan 4 Hal Ini

  1. Lebih baik matikan fitur komentar

Sosial media adalah platform user generated content yang bersifat self-regulation. Artinya, bunda tidak punya kontrol terhadap netizen yang berkomentar negatif. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, ada baiknya bunda mematikan fitur komentar ini. 

  1. Selektif terhadap audience

Niat paling dasar memproduksi konten YouTube bersama anak adalah bersenang-senang. Jadi jangan terlalu fokus untuk mengejar like atau pun subscribe. So, lebih asyik kalau target audience adalah orang-orang dekat atau kerabat.

Itu ya bunda, poin-poin yang perlu diperhatikan saat mengajak si kecil kerja bareng memproduksi konten. Sekali lagi, ini adalah kegiatan untuk membangun bonding bersama si kecil, bukan mengejar traffic agar mendapat respons yang tinggi. 

Kunjungi di lapak official Unifam untuk mendapatkan Permen Susu Milkita Bites  di Shopee dan Tokopedia 

Berita Terpopuler


Bagikan Artikel