Post pada 13 Jan 2026
Pernahkah Bunda merasa lelah karena terus-menerus ingin mengatur setiap jengkal langkah Si Kecil? Rasanya seperti ingin menyingkirkan setiap kerikil di jalannya agar ia tidak jatuh. Nah, di sinilah konsep Lighthouse Parenting hadir sebagai solusi bagi Bunda yang ingin lebih rileks namun tetap efektif. Alih-alih menjadi “helikopter” yang selalu mengawasi dari atas, gaya asuh ini mengajak Bunda untuk menjadi sosok mercusuar yang kokoh di tepi pantai.
Konsep yang dipopulerkan oleh Dr. Kenneth Ginsburg ini mengajarkan bahwa tugas utama orang tua bukan untuk mengontrol setiap gerakan Si Kecil, melainkan memberikan cahaya penuntun. Di Indonesia, tren ini mulai banyak dilirik karena dianggap lebih menyehatkan mental, baik bagi Bunda maupun Si Kecil. Bunda berdiri kokoh di daratan yang aman, memberikan arah agar Si Kecil tidak menabrak karang, namun tetap membiarkannya mengarungi ombak kehidupannya sendiri.

Sering kali kita merasa harus menjadi nahkoda di kapal Si Kecil, memegang kemudi dengan erat karena takut ia salah arah. Padahal, jika Bunda terus-menerus memegang kendali, kapan Si Kecil akan belajar mengemudikan kapalnya sendiri? Menjadi mercusuar berarti Bunda percaya bahwa Si Kecil memiliki kemampuan untuk belajar dari ombak yang menerjangnya. Bunda ada di sana untuk memastikan ia melihat jalan pulang saat badai datang, bukan untuk menghentikan badai itu sendiri.
Berikut adalah alasan mengapa menjadi mercusuar jauh lebih efektif bagi perkembangan Si Kecil:
Menerapkan Lighthouse Parenting sebenarnya bukan tentang melakukan perubahan besar dalam semalam, melainkan tentang pergeseran kecil dalam cara Bunda memandang peran sebagai orang tua. Bunda tidak perlu merasa terbebani untuk menjadi sempurna; cukup dengan menjadi sosok yang stabil dan konsisten bagi Si Kecil. Jika selama ini Bunda merasa sering “lelah hati” karena terlalu banyak mengatur, tips berikut akan membantu Bunda menemukan kembali ketenangan sambil tetap memastikan Si Kecil tumbuh dengan arah yang benar. Yuk, simak cara sederhana menjadi mercusuar yang menyejukkan bagi buah hati kita!
Bayangkan sebuah mercusuar; ia tidak berlari mengejar kapal di tengah laut, bukan? Ia tetap di tempatnya, stabil, dan tidak tergoyahkan oleh cuaca apa pun. Begitu jugalah seharusnya peran Bunda. Si Kecil perlu tahu bahwa apa pun yang terjadi di luar sana—entah dia mendapat nilai jelek atau bertengkar dengan temannya—Bunda adalah tempat pulang yang stabil dan tidak akan menghakiminya dengan emosi yang meledak-ledak.
Untuk menjadi sosok yang stabil, Bunda bisa menerapkan beberapa hal berikut:
Banyak yang salah kaprah dan mengira gaya asuh ini berarti membebaskan anak semaunya. Tentu tidak ya, Bunda! Mercusuar tetap memiliki batasan yang jelas, yaitu daratan dan karang yang berbahaya. Dalam Lighthouse Parenting, Bunda tetap memberikan aturan dan batasan yang tegas namun disampaikan dengan penuh kehangatan. Batasan ini bukan untuk mengekang, melainkan untuk menjaga keselamatan Si Kecil agar ia tidak karam di tengah laut.
Batasan yang sehat dalam pola asuh ini mencakup:

Salah satu tantangan terbesar bagi Bunda adalah tekanan sosial yang menuntut anak harus “lebih” dari anak lainnya. Di sinilah Lighthouse Parenting melatih Bunda untuk mempercayai proses. Setiap anak memiliki waktu mekar yang berbeda, dan tugas Bunda adalah terus memberikan nutrisi serta cahaya yang cukup tanpa perlu memaksa kelopaknya terbuka lebih cepat secara paksa.
Berikut adalah langkah untuk belajar percaya pada proses Si Kecil:
Gaya komunikasi adalah kunci utama dari Lighthouse Parenting. Bunda tidak memberikan perintah satu arah, melainkan pertanyaan reflektif yang merangsang otak Si Kecil untuk berpikir. Alih-alih melarang dengan keras, Bunda menjadi pemandu yang memberikan navigasi agar Si Kecil bisa menentukan arahnya sendiri dengan bijak.
Bunda bisa mencoba gaya komunikasi berikut:
Menjadi orang tua memang sarat dengan rasa khawatir. Wajar sekali jika Bunda merasa cemas akan masa depan Si Kecil. Namun, kecemasan yang berlebihan justru bisa memadamkan cahaya mercusuar Bunda. Untuk menjadi pembimbing yang tenang, Bunda juga perlu memperhatikan kesehatan mental diri sendiri. Ingat, mercusuar tidak bisa bersinar jika lampunya pecah atau kehabisan bahan bakar.
Tips untuk mengelola kecemasan Bunda:
Mungkin Bunda bertanya-tanya, apa sih untungnya repot-repot mengubah pola asuh menjadi mercusuar? Ternyata, dampaknya sangat luar biasa bagi masa depan Si Kecil. Anak yang tumbuh dengan bimbingan yang tenang namun pasti, cenderung lebih siap menghadapi kerasnya dunia nyata saat mereka dewasa kelak. Mereka tidak tumbuh menjadi “anak manja” yang selalu menunggu diselamatkan, tapi menjadi individu yang solutif.
Beberapa dampak positif yang akan terlihat antara lain:
Baca juga: 6 Cara Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak yang Perlu Orangtua Ketahui
Menjadi Lighthouse Parent atau orang tua mercusuar adalah sebuah perjalanan belajar yang terus menerus. Ini bukan tentang mengubah karakter Si Kecil, tapi tentang mengubah cara kita memandang peran sebagai orang tua. Dengan menjadi sosok yang stabil, tenang, dan penuh kepercayaan, Bunda sedang memberikan kompas terbaik bagi Si Kecil untuk mengarungi kehidupannya sendiri dengan gagah berani.
Mari kita mulai perlahan ya, Bunda. Tarik napas panjang saat badai emosi datang, tetap berdiri kokoh di daratan, dan biarkan cahaya kasih sayang Bunda menuntun Si Kecil menemukan jati dirinya. Percayalah, Si Kecil jauh lebih kuat dan hebat dari yang Bunda bayangkan. Dengan bimbingan yang tepat, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya sukses, tapi juga bahagia dan bermakna.
Bunda bisa temukan artikel parenting lainnya di Instagram @Unifam.id. Dan pastinya, jangan lupa belanja produk-produk Unifam hanya di Toko Official Unifam di Shopee dan Tokopedia biar lebih aman dan pasti asli!




