Post pada 23 Feb 2026
Halo, Bunda hebat! Bagaimana kabar si Kecil hari ini?
Pernah nggak sih Bunda merasa kewalahan saat jam makan tiba? Si Kecil nggak mau duduk diam, tangannya sibuk menggapai remote TV, atau mungkin Bunda sendiri tanpa sadar menyuapi si Kecil sambil memegang smartphone agar ia anteng dan makanannya cepat habis.
Memang sih, distraksi seperti TV atau HP sering jadi “penyelamat” sementara agar drama GTM (Gerakan Tutup Mulut) cepat usai. Tapi tahu nggak, Bun? Kebiasaan ini sebenarnya adalah jebakan yang bisa berdampak panjang bagi kesehatan keluarga, terutama risiko obesitas.
Kebetulan sekali, sebentar lagi kita akan memperingati Hari Obesitas Internasional pada 4 Maret. Momen ini jadi pengingat penting bagi kita untuk mulai menerapkan kebiasaan makan sehat keluarga. Yuk, kita ngobrol santai tentang pentingnya Mindful Dining dan mematikan layar saat makan!

Mungkin Bunda bertanya-tanya, “Apa hubungannya nonton kartun sama berat badan anak?” Nah, di sinilah letak masalahnya. Saat kita (atau anak-anak) makan sambil menonton, otak kita terbagi fokusnya. Fenomena ini sering disebut sebagai Makan Terdistraksi.
Otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menyadari bahwa lambung sudah penuh. Saat si Kecil terpaku pada layar, otak terlalu sibuk memproses visual dari tontonan sehingga “lupa” membaca sinyal kenyang dari perut. Hasilnya? Si Kecil terus mengunyah tanpa sadar, dan porsi yang masuk jadi berlebihan.
Pernah nggak Bunda ngemil sambil nonton drakor, tiba-tiba satu bungkus keripik sudah habis? Itulah yang terjadi pada anak. Tanpa disadari, mereka kehilangan kepekaan terhadap rasa dan tekstur makanan. Padahal, mengenal tekstur sangat penting untuk perkembangan sensorik mereka.
Mengutip dari laman Alodokter, salah satu cara mencegah obesitas pada anak adalah dengan mengatur pola makan dan aktivitas fisiknya. Makan terdistraksi adalah pintu masuk utama menuju kelebihan berat badan. Jika dibiarkan, kebiasaan ini akan terbawa hingga mereka dewasa, meningkatkan risiko diabetes dan masalah kesehatan lainnya.
Lawan dari makan terdistraksi adalah Mindful Dining atau makan dengan sadar. Ini bukan sekadar tren, Bun, melainkan pondasi utama kebiasaan makan sehat keluarga.
Apa sih Mindful Dining itu? Sederhananya, ini adalah praktik hadir sepenuhnya saat makan. Melibatkan panca indera: melihat warna sayuran yang cerah, mencium aroma masakan Bunda yang lezat, merasakan tekstur nasi, dan mendengarkan suara kunyahan.
Saat kita makan dengan sadar:

Mengubah kebiasaan memang nggak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi kalau si Kecil sudah terbiasa dengan “gadget pendamping makan”. Tapi tenang, Bun, kita bisa mulai pelan-pelan dengan langkah berikut:
Jadikan meja makan sebagai area terlarang untuk segala jenis layar. Artinya, TV dimatikan dan HP dijauhkan (jangan diletakkan di atas meja, apalagi di samping piring). Penting banget nih Bun, aturan ini harus berlaku untuk semua anggota keluarga tanpa terkecuali.
Anak adalah peniru yang sangat hebat; jika mereka melihat Ayah dan Bunda tetap asyik scrolling media sosial saat makan, mereka akan menganggap bahwa makan sambil melihat layar adalah hal yang wajar. Dengan mematikan layar, kita mengembalikan fungsi meja makan sebagai tempat interaksi manusia, bukan interaksi dengan gadget.
Seringkali meja makan jadi tempat yang menegangkan karena Bunda terlalu fokus memaksa si Kecil menghabiskan sayurnya. Cobalah ubah suasana jadi lebih santai. Gunakan peralatan makan yang lucu, putar musik instrumen yang tenang dengan volume kecil, dan pastikan pencahayaan ruang makan nyaman.
Hindari mengkritik cara makan anak atau membicarakan topik yang berat. Jika suasana meja makan terasa hangat dan penuh tawa, si Kecil akan merindukan momen duduk di sana dan tidak lagi merasa butuh “hiburan” dari kartun TV untuk menghabiskan makanannya.
Anak-anak akan merasa lebih memiliki makanan mereka jika mereka ikut “bekerja”. Ajak si Kecil melakukan tugas-tugas kecil sesuai usianya, seperti memetik daun bayam, menata serbet, atau menghitung jumlah sendok yang dibutuhkan.
Saat mereka terlibat dalam persiapan, rasa penasaran mereka terhadap rasa masakan akan meningkat. Di meja makan, Bunda bisa memberikan pujian seperti, “Wah, meja makannya jadi cantik sekali karena Adik yang tata!”. Ini membangun kepercayaan diri mereka dan membuat mereka lebih betah duduk diam menikmati hasil kerja kerasnya.
Gunakan waktu makan sebagai momen untuk saling bercerita. Agar obrolan tidak membosankan, gunakan pertanyaan yang memicu imajinasi mereka, bukan sekadar pertanyaan yang jawabannya “iya” atau “tidak”.
Misalnya, “Kalau hari ini Adik bisa jadi binatang, mau jadi apa dan kenapa?” atau “Tadi di sekolah apa yang paling bikin Adik senang?”. Komunikasi dua arah ini sangat efektif untuk melatih fokus anak sehingga perhatian mereka tidak teralihkan ke gadget. Selain itu, ini adalah cara terbaik untuk Bunda memantau perkembangan emosional si Kecil setiap harinya.
Bantu si Kecil menjadi “detektif makanan”. Alih-alih hanya menyuapi, ajak mereka mendeskripsikan apa yang mereka makan. Tanyakan, “Gimana bunyi kerupuknya saat digigit?” atau “Warna wortel ini apa ya, Bun?”.
Dengan mengajak mereka fokus pada tekstur, aroma, dan rasa, otak si Kecil akan lebih mudah menangkap sinyal kenyang karena fokusnya benar-benar ada pada makanan. Ini adalah dasar dari kebiasaan makan sehat keluarga yang bisa mencegah mereka makan berlebihan (overeating) akibat tidak sadar saat merasa kenyang.
Setiap tanggal 4 Maret, dunia diingatkan bahwa obesitas adalah masalah serius yang bisa dicegah. Sebagai Bunda muda yang cerdas, kita punya peran besar untuk memutus rantai obesitas mulai dari rumah sendiri.
Mencegah obesitas bukan berarti melarang anak makan enak atau memaksanya diet ketat.
Justru, kuncinya adalah membangun hubungan yang sehat dengan makanan melalui mindful dining.
Membangun kebiasaan makan sehat keluarga memang butuh perjuangan ekstra, terutama di tengah gempuran teknologi saat ini. Namun, manfaatnya jauh melampaui sekadar urusan berat badan. Meja makan adalah tempat di mana nilai-nilai keluarga ditanamkan, di mana komunikasi dibangun, dan di mana kesehatan dijaga.
Dengan mematikan distraksi, Bunda tidak hanya melindungi si Kecil dari risiko obesitas, tapi juga mengajarkan mereka menghargai berkah di setiap piringnya. Yuk, kita mulai hari ini! Jadikan meja makan sebagai ruang penuh cinta tanpa gangguan layar demi masa depan si Kecil yang lebih sehat.
Jangan lupa update terus tips seputar parenting dan kesehatan keluarga dengan follow Instagram kami di @Unifam.id. Bunda butuh stok camilan berkualitas atau produk kebutuhan keluarga lainnya? Pastikan Bunda hanya membeli produk asli Unifam di Toko Official Unifam hanya di Shopee dan Tokopedia. Belanja nyaman, keluarga pun senang!
Semangat terus, Bunda hebat! Apakah Bunda punya cerita seru atau tantangan saat membiasakan si Kecil makan di meja makan? Yuk, share pengalaman Bunda!




